Mewujudkan Kota Cerdas Indonesia

Pertumbuhan penduduk merupakan masalah umum di area perkotaan, baik di Indonesia maupun dunia. Seperti kutipan Mc Kinsey Global Institut bahwa 80% pertumbuhan penduduk suatu negara berpusat di kota. Di Indonesia, sekitar 59,35% penduduk tinggal ddi perkotaan, dan ini diperkirakan terus bertambah hingga mencapai 82% pada tahun 2045.

Tingginya populasi ini memunculkan beragam masalah dikota besar seperti kemacetan, mobilitas, lingkungan, energi dan lain sebagainya. Beragam solusi terus dikembangan untuk menyelesaikan masalah ini. Salah satu solusinya adalah smart city atau kota cerdas.

Solusi smart city telah menjadi tren dalam menyelesaikan beragam persoalan dan memaksimalkan potensi kota. Tahun 2012 tidak kurang 143 implementasi proyek kota cerdas dilakukan di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, solusi kota cerdas menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan masalah. Kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Bekasi, Denpasar, Pontianak, Makasar dan lainnya mulai melakukan inisiasi solusi cerdas untuk meyelesaikan masalah kota.

Melihat permasalahan ini, ITB(Institut Teknologi Bandung) melakukan penelitian terkait evaluasi kota cerdas dengan menyelenggarakan Indeks Kota Cerdas Indonesia(IKCI). IKCI bertujuan untuk melakukan pengukuran dan pemeringkatan kinerja pengelolaan kota terhadapa pelayanan masyarakat.

Hasil pengukuran ini dapat menjadi acuan untuk mengambil keputusan dalam pelayanan kota dan mendorong perhatian lebih terhadap perkembangan kota agar tercipta pembangunan yang aman, nyaman dan berkelanjutan.

Smart City ini memanfaatkan TIK untuk mengetahui(sensing), memahami (understanding) dan mengendalikan(controlling) berbagai sumber daya yang ada dengan lebih efektif dan efisien. Ada 13 indikator penilaian kota cerdas antara lain smart economy, smart education, smart industry, smart resources, smart health, smart governance, smart infrastructure, dan masih banyak lagi.

Alat ukur yang digunakan adalah Garuda Smart City Model 2.0 (GSCM). GSCM ini merupakan satu model yang dikembangkan sebagai panduan dalam mengembangkan smart city. Dalam perkembangannya, GSCM telah mengalami dua kali perubahan yaitu Versi 1.0 dengan komponen ekonomi, sosial dan lingkungan, dan enabler teknologi informasi dan komunikasi.

Selain itu, dibuat pula satu platform yang bernama SSP atau Smart System Platform. Satu platform integrasi dan koordinasi yang menggabungkan tiga aspek pemenuhan yaitu people, process da n technology. Platform ini juga mengintegrasikan tiga indikator utama dalam implementasi smart city yaitu aspek economy, society dan environment.

Untuk itu, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC) Suhono Harso Supangkat akan menggelar perhelatan Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI). “Kegiatan ini akan digelar mulai Mei 2017 hingga oktober 2017 melalui proses evaluasi diri, survei hingga validasi data,” ujar Suhono.

Lebih lanjut Suhono menuturkan, semua walikota akan diundang untuk menghadiri acara ini sekaligus mengadakan semacam talk show dengan mengundang tiga Kementrian, Kemendagri, Bappenas, dan Kemkominfo serta Apeksi dan APIC.

Ia menjelaskan, inti dari kegiatan ini adalah mengenalkan model ukuran kematangan kota cerdas di Indonesia. Sejauh mana tingkat kesiapan pemerintah setempat dalam membangun kotanya sehingga warga sekitar bisa hidup nyaman, bahagia, dan sejahtera yang berkelanjutan.

Acara ini digelar di Istana Wakil Presiden dan dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada tanggal 4 Mei 2017. “Banyak persepsi membangun kota cerdas hanya membuat Command Center atau aplikasi, tetapi tidak melihat aspek ekosistem lainnya, seperti manusia, budaya sebelumnya hingga tata kelola,” papar Suhono.

Penyelenggaraan Rating Kota Cerdas Indonesia ini memiliki 4 tujuan antara lain

  1. Melakukan pengukuran kinerja pengelolaan kota terhadap pelayan masyarakat.
  2. Memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kota dan permasalahan di dalamnya.
  3. Memberikan pedoman bagi stakeholder kota dalam membangun layanan kota, dan
  4. Sebagai proses evaluasi berkelanjutan dalam implementasi smart city di kota-kota Indonesia

“Implementasi smart city sebagai solusi banyak dilakukan, namun belum ada model referensi. Karena itu, dibutuhkan evaluasi dan pemetaan kondisi kota agar tiap kota mampu berinovasi berdasarkan kondisi dan karakteristik tiap kota di Indonesia,” ujar Suhono.

Perhelatan RKCI ini dihadiri oleh semua wali kota sekaligus mengadakan talk show dengan mengundang 3 Kementrian, Kemendagri, Bappenas dan Kemkominfo serta Apeksi(Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) dan Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC). Acara ini juga mengundang stake holder lainnya seperti Industri penyedia solusi smart city maupun pemerintah pusat terkait.


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

admin zakisahil

Leave a Comment

*