Kompetisi ini mengundang seluruh pemangku kepentingan bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari berbagai belahan dunia untuk menyampaikan inisiatif karya yang terbagi atas 18 kategori yang ada. Penentuan Champion tersebut harus melalui saringan yang ketat sejak dari fase nominase awal oleh kelompok pakar PBB, dilanjutkan dengan fase voting oleh publik, hingga kemudian penyaringan kembali oleh para pakar tersebut.
Dari setiap 18 kategori yang ada dalam WSIS Prizes 2018, masing-masing dipilih 5 inisiatif karya sebagai Champion. Kemudian dari 5 Champion tersebut, akan ditentukan inisiatif karya yang berhak memperoleh posisi Winner. Tahun ini, Indonesia mampu merebut 12 posisi Champion(2nd best) dari 18 kategori yang dilombakan.
Delegasi Indonesia yang diwakili oleh Relawan TIK hadir langsung di Jenewa untuk menyaksikan penetapan Winner of the Champion dari semua kategori. Relawan TIK yang hadir di Swiss terdiri dari Fajar Eri Dianto-Ketua Umum Relawan TIK, M. Said Hasibuan-Sekjen Relawan TIK, Hani Purnawanti-Penanggung Jawab REGOS dan Erni Sulistiyowati-Penanggung Jawab PUSPINDES.
RelawanTIK Indonesia sebagai bagian dari pelaku gerakan TIK, meloloskan 2 insiatif diajang bergengsi international ini. Program yang lolos adalah RelawanTIK Goes To School(REGOS) dan Pusat Layanan Informasi Pedesaan(PUSPINDES).
Dan pada tanggal 20 Maret 2018, ahli dari ITU dan UN telah mengumumkan para Champion serta Winner atas masing-masing kategori. Dan Indonesia berhasil meraih 2 gelar Champion yang diraih oleh Relawan TIK Indonesia pada kategori 3 (Akses Terhadap Informasi) dan kategori 4 (Capacity Building). Sementara untuk Winner diraih oleh Indonesia Baik – sebuah program yang diluncurkan oleh Kementerian Kominfo RI.
Informasi ini didapat dari unggahan Hani Purnawanti di salah satu akun media sosialnya. Selamat untuk Indonesia, sukses terus untuk Relawan TIK Indonesia.
“Tahun lalu kita mendapatkan empat champion, tahun ini alhamdulilah dapat dua belas champion. Jadi dari delapan belas kategori yang diperlombakan di dunia kita masuk di delapan kategori. Itu merupakan peningkatan apresiasi dunia kepada Indonesia,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara
Anugerah WSIS yang dimulai sejak 2012 itu mengumpulkan dan mengevaluasi usulan dari seluruh dunia mengenai aktivitas industri TIK, baik perangkat keras, jaringan dan aplikasi. “Aktifitas pegiat dalam bidang TIK jangan dilihat dari telekomunikasi saja, tetapi juga ada internet, media sosial yang masuk dalam ajang kompetisi WSIS,” ungkap Menteri Rudiantara.
Menteri Kominfo mengucapkan terima kasih kepada Relawan TIK yang menjadi nominasi. Menurutnya, dari total 685 karya yang masuk dari seluruh dunia, sekitar 90 inisiatif dinominasikan. Setelah itu dalam setiap kategori masing-masing dipilih 5 inisiatif karya. Jadi merupakan suatu apresiasi bagaimana dunia menilai Indonesia, karena Indonesia berhasil merebut 12 posisi champion,” jelasnya.

Kompetisi WSIS mengundang seluruh pemangku kepentingan bidang TIK dari berbagai belahan dunia untuk menyampaikan inisiatif karya yang terbagi atas 18 kategori yang ada. Penentuan champion melalui saringan yang ketat, sejak dari fase nominasi awal oleh kelompok Pakar PBB, dilanjutkan dengan fase voting oleh publik, hingga kemudian penyaringan kembali oleh para pakar tersebut.
“Ini bukan Indonesia Idol, bukan WSIS Idol, bukan dimana semua orang voting pakai SMS. Ini ada panel expert di dunia yang mereview masing-masing nominasi. Jadi ada 8 kategori Indonesia masuk champion, mudah-mudahan nanti disana kita menjadi nomor satu,” tambah Menteri Rudiantara.
Dalam WSIS Forum 2018 di Jenewa, yang berlangung pada 19 s.d. 23 Maret 2018 mendatang, akan diumumkan inisiatif yang berhak mendapatkan posisi Winner atau Juara Pertama dari setiap kategori yang ada.