Turut hadir dalam acara tersebut Menteri Kominfo, Rudiantara. Dalam sambutannya, Rudiantara mengajak untuk memetakan kebutuhan dan kolaborasi untuk meningkatkan kompetensi generasi muda. Indonesia membutuhkan banyak sumberdaya manusia untuk menjadi coder dan ahli big data analysis. “Selain coder, kita butuh juga ahli big data analysis. Kita perlu menghitung berapa ahli big data analysis yang kita miliki dan butuhkan,” katanya.
Dua keahlian itu dibutuhkan untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain dalam hal pemanfaatan teknologi informasi. “Kita memerlukan SDM yang mengetahui coding, bahkan di Singapura, coding sudah diajarkan sejak dari TK,” jelas Menteri Kominfo membandingkan kesiapan negara tetangga.
Menteri Rudiantara mencontohkan upayanya bersama sejumlah pihak membuat homeschooling coding. Chief RA menyebut pembekalan anak muda tidak harus melalui pendidikan formal. “Kita tidak boleh hanya andalkan pendidikan formal. Saat ini kita mempunyai peta okupasi kompetensi, tapi so what? Saya tidak sabaran jadi saya membuat homeschooling coding,” tandasnya.
Lebih lanjut Menteri Kominfo juga mengajak semua pihak yang ingin bekerja sama membantu homeschooling coding dimana siswa yang bergabung disana berusia 15 tahun, jadi saat berumur 18 bisa menjadi coder.
“Saya mengajak semua patungan untuk homeschooling coding. Kurikulumnya diambil dari Google ambasador Indonesia, dan nanti magangnya bisa di kantornya Nadiem (CEO Go-Jek),” katanya.
Menteri Rudiantara menegaskan upaya mendidik anak muda agar memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi harus dilakukan dengan cara-cara baru.
“Kita perlu kerja keroyokan jangan bergantung pada hal formal. Kita keluar dari pakem, aturan kita ubah. Jangan ubah target tapi ubah cara berpikirnya, tidak perlu out of the box tapi no box,” tandasnya.
]]>Penerapan SKKNI diantaranya disusun dalam kemasan Kualifikasi Nasional, Okupasi atau Jabatan Nasional. Peta Okupasi dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Hal ini sebaiknya disusun dan dikembangkan di semua sektor atau lapangan usaha sesuai Permen Naker No. 02 Tahun 2016.
Dan untuk bidang TIK, Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial, rasio tenaga kerja di bidang TIK profesional terhadap jumlah populasi masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Menteri Kominfo Rudiantara sampaikan bahwa saat ini kita hidup dalam konstelasi global. Menkominfo juga sampaikan bahwa di sisi lain, industri nasional kita yang didukung oleh TIK bagaimana agar dapat diterima secara luas di berbagai negara. “Kita dorong digitalisasi yang berjalan dan akan terus berkembang mampu hadir dalam konstelasi global tersebut” katanya.
“Kalau kita lihat perkembangan TIK yang luar biasa saat ini, sebetulnya Indonesia masih jauh tertinggal. Dari sisi jumlah profesi kita banyak yang jago, tapi secara rasio terhadap jumlah populasi, kita mungkin yang paling rendah barangkali di ASEAN,” kata Chief RA dalam Peluncuran Peta Okupasi Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia Tahun 2017 di Ruang Anantakupa, Gedung Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis (27/07/2017).
Peta Okupasi Bidang TIK 2017 terdiri dari 125 okupasi di 14 area kunci yang dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan baik di bidang industri, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Dibidang Industri, peta okupasi TIK ini diperlukan untuk memberikan acuan baku kualifikasi dan kompetensi SDM pada Okupasi atau Jabatan tertentu.
Profesional TI dan perusahaan di Indonesia bisa memanfaatkan peta okupasi untuk menentukan jenis-jenis keahlian dan kompetensi yang dibutuhkan untuk berbagai pekerjaan teknologi informasi dan komunikasi serta untuk mengembangkan strategi pelatihan guna mendapatkan penguasaan atas keahlian tersebut.
Untuk mendorong peningkatan SDM, Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Salah satu yang dimandatkan dalam Inpres tersebut adalah mepercepat penyelesaian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Inpres tersebut ditujukan untuk memperbaiki kualitas lulusan SMK dan menciptakan link and match antara dunia pendidikan dengan industri.
Selain dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum, SKKNI juga bisa dijadikan dalam mengembangkan pelatihan bagi lembaga-lembaga pelatihan serta pengembangan karier dan profesionalisme tenaga kerja yang berlangsung di tempat kerja. Dengan demikian, pendidikan, pelatihan kerja dan pengembangan karier ditempat kerja, bisa menjadi suatu estafet proses pengembangan kualitas dan kompetensi tenaga kerja yang mampu mendongkrak daya saing bangsa.
Salah satu program ITU yang dikelola oleh koordinator Asia Pacific adalah International ICT Volunteer yang telah dirintis sejak 2012, dimana ITU menjadi pengelola kegiatan kerelawanan dalam bidang TIK di berbagai negara berkembang yang memerlukan. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi target kunjungan IIV hingga saat ini.
Dalam mempersiapkan ko
mpetensi IIV yang umumnya terdiri dari 4 anggota dalam sebuah team yang ditugaskan di berbagai negara Asia Pasific, IIV menyediakan pelatihan intensif dalam waktu 4 (empat) hari bagi calon IIV 2017 yang berlokasi di Korea. Sebagai informasi ITU bekerjasama dengan National Internet Society Agency di Korea dalam perekrutan dan pembinaan relawan yang bergabung dalam IIV.
Sebagai negara tujuan kegiatan ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia mempersiapkan Relawan TIK Indonesia untuk menjadi pasangan di wilayah local dalam pelaksanaan kegiatan kerelawanan di masyarakat dalam program REGOS yang akan dilaksanakan mulai 10 Juli sd 20 Agustus 2017. Wilayah yang akan melaksanakan aktivitas ini adalah: Banjarmasin, Bogor, Depok, Jepara, dan DKI Jakarta. Khusus DKI Jakarta, pendampingan dilakukan oleh Team APKOMINDO Excellent Center dan RTIK Indonesia.
Selama berlangsungnya kegiatan ini, peserta bootcamp memperoleh pelatihan bidang TIK, social budaya, metode sharing/pengajaran sekaligus bekal untuk beradaptasi di lingkungan yang baru bagi mereka. Dalam satu kesempatan, perwakilan negara tujuan seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam dan Srilanka juga memberikan pembekalan tentang program yang akan dilaksanakan di negara masing-masing.
Dalam rangka mempersiapkan kegiatan ini, perwakilan Relawan TIK dan Kemkominfo RI diundang untuk mengikuti General Meeting Ketiga di Osan City, Republik Korea pada 23 – 27 Mei 2017. Tujuannya adalah memastikan aktivitas akan dilaksanakan dengan persiapan yang baik dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan IIV yang memadai agar dapat berkontribusi sesuai kemampuan selama di Indonesia.
Lokasi bootcamp di Lotte Academy – Osan City yang jaraknya sekitar 90 menit berkendara dari bandara Incheon, Seoul. Lingkungan yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota besar menjadikan suasana belajar begitu menyenangkan. (Hani Purnawanti – Kabid Kemitraan Relawan TIK)
Pada tanggal 9-10 Mei 2017, tim AXC langsung tancap gas mengadakan pelatihan perdana setelah diluncurkan sehari sebelumnya. Dan materi yang diberikan adalah pengenalan perlengkapan pembuatan bahan ajar digital/ e-learning yang dipresentasikan oleh team GrandTech menggunakan perangkat Wacom.
Pelatihan perdana ini diikuti sekitar 37 peserta. Satu pemandangan yang membuat semua punggawa AXC bangga. Bagaimana tidak, dihari pertama mengadakan pelatihan, kelas penuh. Pada pelatihan sesi pertama ini, team GrandTech memberikan penjelasan tentang pemanfaatan pen tablet agar kegiatan belajar interaktif antara guru dan siswa berlangsung dengan baik.
Pada sesi kedua, peserta pelatihan yang terdiri dari guru dan siswa SMK ini mendapat pembelajaran bagaimana penggunaan aplikasi SCRATCH yang diperkenalkan oleh tim Relawan TIK. Aplikasi ini berguna dalam pembuatan bahan ajar digital.
Di hari kedua pelatihan, peserta mendapatkan materi pembuatan bahan ajar dengan aplikasi open source yang dibawakan oleh Team AXC dan Relawan TIK. Sementara pada sesi kedua, diadakan evaluasi dan tanya jawab terhadap materi-materi yang telah diberikan.
“Mau ikutan lagi, pengen belajar lagi,” ungkap sebagian besar peserta pelatihan. Respon yang cukup bagus mengingat ini merupakan kali pertama bagi APKOMINDO mengadakan program edukasi melalui AXC setelah cukup lama vakum. Antusiasme peserta membuat tim AXC semakin bersemangat dalam meningkatkan kompetensi SDM TIK di Indonesia.
Batch kedua pelatihan berlangsung pada tanggal 16-18 Mei 2017. Pada pelatihan kali ini, diikuti sekitar 30 peserta dengan materi-materi yang diberikan antara lain pembangunan infrastruktur e-learning baik berbasis kabel maupun nirkabel.
Tim dari Data Global memberikan pengajaran mengenai Infrastruktur jaringan e-learning berbasis kabel pada sesi kedua pelatihan setelah pada sesi pertama, Tim AXC memberi pengenalan mengenai infrastruktur e-learning.
Di hari kedua, secara bergantian tim dari Edimax dan tim dari NComputing memberikan ilmunya kepada peserta dengan materi pembangunan infrastruktur jaringan e-learning berbasis nirkabel. Semua materi tersebut semakin lengkap dengan pembelajaran konfigurasi server e-learning yang dibawakan oleh tim AXC dan Relawan TIK pada hari ketiga.
Semangat berbagi ilmu di AXC tidak hanya terjadi di Jakarta, tim AXC di kota Bogor tidak mau ketinggalan. Mengusung tema Pemantapan Kompetensi Lulusan SMK TIK, program pelatihan diikuti peserta dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pelatihan ini juga dimulai pada tanggal 16 Juni 2017.
Pelatihan di Bogor dibuk
a dengan materi Pembekalan Kewirausahaan di Era Industri Kreatif. Rudy D Muliadi selaku Ketua Umum APKOMINDO memberikan ilmunya diindustri printing dengan bahan mug dan kaos. Peserta cukup antusias mengikuti karena tidak hanya mendapatkan teori, tetapi mereka juga mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Di akhir pertemuan, para peserta bisa membawa pulang karya mereka yang dicetak di mug maupun kaos. Materi selanjutnya yang diberikan oleh tim AXC Bogor adalah pembekalan teknis untuk networking.
Tidak berhenti sampai disini, setelah beragam pelatihan usai. AXC akan terus membuat program-program pelatihan maupun workshop untuk meningkatkan kompetensi SDM TIK. Pada tahun ajaran baru nanti, tim AXC akan mempersiapkan jadwal untuk membiasakan siswa melakukan ujian berbasis komputer sesuai instruksi dari Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah KEMDIKBUD, Hamid Muhammad bahwa di tahun depan pelaksanaan UNBK di jenjang SMA ditingkatkan menjadi 100 persen.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan SDM, APKOMINDO(Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia) menjalankan satu program yang diberi nama APKOMINDO EXCELLENT CENTER (AXC). AXC merupakan kontribusi nyata terhadap peningkatan kapasitas masyarakat agar semua orang dapat meningkatkan mutu kehidupannya melalui pemanfaatan TIK yang baik dan terarah.
APKOMINDO Excellent Center(AXC) resmi diperkenalkan pada 8 Mei 2017. Bertempat di Hotel Ibis Styles Mangga Dua Square, launching AXC dihadiri oleh anggota-anggota APKOMINDO, praktisi TIK, guru-guru SMK yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP) TIK, Relawan TIK serta para relasi dan undangan lainnya.
Sambutan dari ketua Yayasan APKOMINDO, Bapak Hidayat Tjokrodjojo membuka rangkaian acara peluncuran AXC. Setelah sambutan dari Bapak Hidayat, giliran ketua umum APKOMINDO, Bapak Rudi D. Muliadi memberikan sambutannya. Dalam sambutannya, ketua umum APKOMINDO menjelaskan latar belakang dijalankannya program AXC.
Setelah sambutan ketua umum APKOMINDO, prosesi peluncuran AXC dilakukan dengan penekanan tombol oleh Direktur Pemberdayaan Informatika, Ibu Septriana Tangkary, SE, MM yang didampingi para pengurus APKOMINDO.
Dalam paparannya setelah prosesi launching, Ibu Septriana Tangkary menjelaskan bagaimana pemanfaatkan internet secara CAKAP(Cerdas, Kreatif dan Produktif). Selain itu, Ibu Septriana juga mengingatkan agar tidak terpengaruh dengan berita-berita Hoax, apalagi sampai ikut menyebarkannya. Maraknya kejahatan siber juga dikarenakan minimnya pengetahuan akan TIK, sehingga tanpa disadari kita sering memposting data pribadi ke media sosial.
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan Rudy D. Muliadi(Ketua Umum APKOMINDO), Rahmadin Tarigan(Ketua MGMP), dan Michael S. Sunggiardi(Pengamat TIK) sebagai pembicara. Diskusi panel ini dimoderatori oleh Suhendra Marzs, Pimpinan Redaksi Tabloid APKOMINDO Info.
Dalam diskusi ini, Rudy Muliadi banyak menyoroti persoalan Artificial Intelligence yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan. Sementara, dua pembicara selanjutnya menyoroti bagaimana kita menyikapi pembelajaran di abad 21 dengan membangun infrastruktur e-learning di sekolah.
Dan dengan kehadiran Apkomindo Excellent Center diharapkan dapat membantu membina dan mendidik tenaga-tenaga SDM TIK yang kompeten, yang mampu mewujudkan proses pembelajaran abad 21 dan membangun infrastruktur digital di sekolah-sekolah.
Selanjutnya aktivitas awal yang dilakukan di AXC adalah dengan menyelenggarakan pelatihan bagi 60 guru SMP dari Kota Depok dan sekitarnya dengan tema Membangun Infrastruktur E-Learning di Sekolah yang diadakan pada tanggal 9 sampai dengan 18 Mei 2017. Program pelatihan ini berisi tentang pengenalan dan pembuatan konten e-learning bagi guru mata pelajaran non TIK serta Pelatihan Pembangunan dan Optimalisasi infrastruktur e-learning di Sekolah bagi guru yang bertanggung jawab di bidang TIK dan sarana pendidikan.
Program-program AXC selain dilaksanakan di Jakarta juga parallel dilaksanakan di Bogor dengan target peserta siswa dan siswi pilihan lulusan tahun ini untuk dimantapkan kompetensinya sebelum masuk ke dunia kerja sesungguhnya.
APKOMINDO berharap nantinya SDM TIK memiliki kompetensi untuk membantu terwujudnya pemerataan teknologi diseluruh wilayah. Semoga kehadiran APKOMINDO Excellent Center dapat memberikan kontribusi maksimal demi kemajuan industri TIK Indonesia dengan menghasilkan tenaga-tenaga terampil yang kompeten di industri teknologi informasi dan komunikasi.

Apkomindo X Center (dibaca Apkomindo Excellent Center, disingkat AXC) adalah program kerja Apkomindo (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia) dalam membantu pemerintah untuk menerapkan pemanfaatan TIK diseluruh jenjang pemerintahan. Target AXC adalah mengembangkan sumber daya TIK agar mampu menjalankan roda pemerintahan dan e-Government dengan optimal.
AXC dalam kegiatannya bekerja sama dengan berbagai pihak; dengan vendor dan pemegang merk, dengan perguruan tinggi nasional atau lokal, dan dengan komunitas atau Relawan TIK dari Kemkominfo. Fungsi AXC adalah mengembangkan SDM lokal dan nasional, yang berbasis TIK, sehingga dapat mengawal, mengerjakan, dan memonitor program pembangunan yang berbasis TIK secara menyeluruh.
Karena seperti diketahui, banyak sekali program pemerintah berbasis TIK yang tidak berhasil melewati titik kritis pemanfaatannya, hanya karena kekurangan SDM diberbagai tempat diseluruh Indonesia. Program Kerja AXC untuk diseluruh wilayah Indonesia terdiri dari tiga pekerjaan :
1. AXC melakukan pro bono (memberi masukan ke Kementerian dan Lembaga sebagai volunteer) dan konsultasi untuk penerapan TIK, diseluruh tingkatan wilayah.
2. AXC menyediakan pelatihan dan SDM penyelenggara program kerja dari Kementerian dan Lembaga untuk dapat dijalankan di provinsi, kota/kabupaten, dan desa.
3. AXC membantu Kementerian dan Lembaga untuk melakukan sosialisasi program kerja yang berbasis TIK ataupun umum di wilayah provinsi, kota/ kabupaten, dan desa.
Dari ketiga Program Kerja AXC dapat dijabarkan secara umum pekerjaan yang akan dilakukan :
– AXC akan membuat pelatihan yang berkesinambungan dengan kompetensi pemanfaatan TIK agar dapat memenuhi target pengadaan SDM pelaksana pemanfaatan TIK di 34 provinsi, 514 kota/kab, dan 74.093 desa, guna men dukung operasional satker dimasing- masing wilayah agar dapat memanfaatkan TIK dengan baik dan benar.
– AXC secara berkelanjutan akan menyelenggarakan pelatihan pemanfaatan TIK untuk tingkat pengambil keputusan di setiap wilayah.
– AXC akan membantu pemerintah daerah dan aparat desa untuk dapat melakukan sosialisasi berbagai bidang dengan basis TIK.
– AXC akan menyelenggarakan seminar, workshop, FGD, dan demo pemanfaatan TIK di semua wilayah.
– AXC dengan kompetensi pemanfaatan TIK akan membantu pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi, FGD, Uji Publik, Monitoring, Evaluasi, dan lainnya, sehubungan dengan regulasi, ketentuan, dan peraturan-peraturan