Pelaksanaan Pencanangan Implementasi Revitalisasi SMK merupakan perwujudan keinginan Pemprov DKI Jakarta dalam menindaklanjuti adanya Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan(SMK).
Dalam sambutannya, Anies menjelaskan, Indonesia tumbuh dan berkembang dari karya terampil orang-orang yang dilatih di lembaga pendidikan terutama SMK. “Maka dari itu, penting bagi semua pihak untuk membantu mengembangkan SMK. Kebanyakan dari kita tahunya beres. Padahal ada proses pendidikan dan pelatihan dari para anak-anak kita salah satunya di SMK, maka dari itu Pemprov DKI akan mendukung penuh program ini,” ujar Anies
Anies Baswedan juga menyatakan kesiapan Provinsi DKI Jakarta sebagai percontohan revitalisasi SMK. “Pak Menteri, izinkan kami sampaikan bahwa Jakarta siap apabila Kemendikbud menjadikan Jakarta sebagai salah satu lahan pilot project-nya. Kenapa DKI? Tidak ada kota di Indonesia yang memiliki dunia usaha sebanyak Jakarta. Tidak ada,” kata Anies.
Sementara itu, dalam sambutannya Mendikbud, Prof. Dr. Muhadjir Effendy mengatakan, Provinsi DKI Jakarta bisa menjadi pilot project atau proyek percontohan dalam mengimplementasikan program Revitalisasi SMK. “Ini adalah salah satu provinsi yang mengawali pencanangan ini, dan tentu saja saya mendukung penuh untuk dijadikan piloting,” ujar Mendikbud.
Program Revitalisasi SMK salah satunya bertujuan untuk menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK sesuai dengan kompetensi kebutuhan pengguna lulusan dan kebutuhan pasar kerja atau dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Revitalisasi SMK juga mengubah pembelajaran dari supply driven ke demand driven hingga menyiapkan tamatan SMK yang adaptif terhadap perubahan untuk menjadi SDM yang terampil bekerja dan berwirausaha.
Pencanangan revitalisasi SMK ini ditandai dengan penyerahan tamatan SMK DKI Jakarta sebagai karyawan kepada 100 (seratus) perusahaan yang menjadi mitra SMK DKI Jakarta. Kebekerjaan tamatan SMK sangat penting dan menjadi salah satu tujuan revitalisasi SMK. Karena perlu dilakukan peningkatan kerja sama sekolah dengan DUDI dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dan industri dengan menerapkan kelas-kelas khusus industri dan rekrutmen.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Bowo Irianto mengatakan, program revitalisasi SMK terdiri dari, penataan kompetensi keahlian pada SMK dengan membuka kompetensi keahlian baru yang tumbuh pada era ekonomi digital (digital economy)/e-Commerce. Lalu menambah daya tampung Peserta Didik Baru pada SMK Negeri sehingga akan ada peningkatan secara signifikan dari 22 persen (dari populasi peserta didik SMK keseluruhan) menjadi 45 persen di 2022.
Acara pencanangan juga dihadiri oleh perwakilan dari dunia industri dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Jumlah tamatan SMK di DKI Jakarta pada tahun pelajaran 2017/2018 yang langsung direkrut bekerja di berbagai perusahaan pada tahun kelulusan (0 tahun 0 bulan) sebanyak 2.877 orang.
“Teaching factory, nantinya akan menghasilkan produk atau jasa yang sesuai standar industri. Kemudian itu bisa dijual dan menjadi bagian dari pemasukan sekolah juga. Setidaknya, anak-anak belajar memproduksi sesuai standar dan mengelola sebuah unit produksi,” disampaikan Mendikbud dalam pembukaan bimbingan teknis Bantuan Teaching Factory yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan SMK, di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (28/6/2018).
Program Revitalisasi SMK yang dimulai tahun 2017 menyasar 219 sekolah di seluruh Indonesia. Sebanyak 114 SMK telah mendapatkan bantuan pengembangan teaching factory di tahun 2017, sedangkan sisanya sebanyak 105 SMK direalisasikan pada tahun 2018. “Tahun 2018 Kemendikbud akan menambah lagi sebanyak 350 sekolah untuk direvitalisasi, sehingga totalnya nanti ada sekitar 569 sekolah,” jelas Direktur Pembinaan SMK, M. Bakrun.
Program bantuan teaching factory tidak terbatas untuk SMK negeri saja, melainkan juga untuk SMK swasta. Syarat terpenting adalah SMK calon penerima bantuan tersebut sudah memiliki potensi teaching factory. “Misalnya, SMK itu sudah punya laboratorium atau bengkel, tapi masih belum layak, maka bantuan bisa digunakan untuk memperbaiki agar sesuai standar industri,” jelas Direktur Pembinaan SMK.
Kemendikbud Dorong SMK Negeri Menjadi BLUD
Dalam sambutannya di depan para kepala sekolah penerima bantuan program Revitalisasi SMK, Mendikbud mendorong agar SMK negeri dengan teaching factory dapat menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dan SMK yang berstatus BLUD tersebut harus menjalin kemitraan erat dengan industri atau jasa. “Kurikulumnya bisa ditentukan dengan perusahaan yang diajak sebagai mitra, hingga sebesar 60 persen,” ujarnya.
Selama ini, menurut Mendikbud, cukup banyak SMK dengan teaching factory yang cukup maju beroperasi layaknya industri. Agar pemasukan yang didapatkan dari penjualan hasil produksi teaching factory tidak dikategorikan sebagai penyimpangan pengelolaan keuangan maka perlu mendorong SMK dengan teaching factory menjadi BULD.
“Mudah-mudahan tahun ini peraturan menteri tentang pembentukan BLUD bagi SMK negeri sudah selesai dibuat,” kata Muhadjir.
Dengan dikelolanya SMK oleh pemerintah provinsi, Mendikbud berharap peraturan menteri yang segera diterbitkan terkait pembentukan BLUD dapat ditindaklanjuti dengan peraturan gubernur. Diyakini Mendikbud, proses pembelajaran teaching factory dapat mendorong produktivitas baik siswa, guru, maupun sekolah secara keseluruhan karena saling berlomba menghadirkan produk/layanan unggulan masing-masing.
Penguatan Karakter Melalui Teaching Factory
Teaching Factory merupakan program yang menjembatani antara sekolah dengan dunia industri atau usaha yang memiliki kesamaan bidang keterampilan. Sehingga program tersebut bakal mendidik siswa SMK agar mampu memproduksi barang ataupun jasa layaknya perusahaan.
Direktur Pembinaan SMK mengungkapkan bahwa teaching factory berperan sangat penting bagi pendidikan karakter siswa SMK. Pembelajaran di teaching factory dimaksudkan untuk melatih siswa tidak hanya terampil dan kompeten, tetapi juga memiliki sikap mental dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pembelajaran melalui teaching factory, diyakini mampu menumbuhkembangkan etos kerja serta karakter disiplin, tanggung jawab, jujur, kerja sama, dan kepemimpinan dari peserta didik; yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri.
Pembelajaran kejuruan melalui teaching factory juga dianggap mampu meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, dari sekadar membekali kompetensi (competency based training) menuju ke pembelajaran yang membekali kemampuan memproduksi barang/jasa (production based training).
“Banyak industri yang hanya ingin mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya, tapi tidak mau investasi. Jadi, program teaching factory ini bisa menjadi jembatan untuk link and match antara sekolah dengan dunia industri,” jelas M.Bakrun.
kemdikbud.go.id