Dengan melihat semakin pesatnya perkembangan teknologi digital dimasyarakat, khususnya pelajar, dimana saat ini kegiatan mereka tidak lepas dari perangkat digital dan juga internet. Aktivitas-aktivitas melalui internet tanpa disadari bisa juga memiliki potensi pelanggaran hukum ketika kemudian mereka aktif menyebarkan berita palsu atau hoax, melakukan perundungan melalui media social dan sebagainya.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang nantinya dapat merugikan para pelajar, pada hari Kamis, 30 Juni 2022, kantor sekretariat APKOMINDO mendapatkan kunjungan dari BAINTELKAM MABES POLRI. Kombes Pol Budi Agus beserta jajarannya hadir mengunjungi APKOMINDO untuk bersilaturahmi dan bersinergi menyiapkan program-program edukasi yang tentunya berkaitan dengan intelijen dan pertahanan keamanan.
Dala
m audiensi kemarin, Kombes Pol Budi Agus menyebutkan bahwa banyak anak usia sekolah yang tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu berbahaya dan berpotensi mengganggu keamanan, salah satunya seperti menyebarkan berita palsu, dan itu telah diatur dalam UU ITE. Untuk itu diperlukan adanya sosialisasi dan edukasi kepada anak-anak usia sekolah.
Rudy D. Muliadi selaku ketua umum APKOMINDO merespon positif hasil audiensi dan siap membantu BAINTELKAM MABES POLRI untuk bersama dan saling bersinergi memberikan edukasi terkait pertahanan keamanan.
“Ini bukan program pemerintah saja tapi juga program perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat. Concern Kominfo adalah merangkul komunitas dan ekosistem untuk menyebarkan konten positif,” ungkap Rudiantara pada diskusi SiBerkreasi.
Berdasarkan data dari 1 Januari hingga 18 September 2017, total aduan dari masyarakat dan instansi terkait konten negatif mencapai 42.821 aduan. Dimana posisi pertama ditempati aduan mengenai SARA/kebencian (13.829), kemudian disusul aduan pornografi (13.120), dan berita bohong (hoax) sebanyak 6.973 aduan. Sedangkan untuk total pemblokiran situs hingga 18 September sudah mencapai 782.316 situs.
Ketua Umum Gerakan #SiBerkreasi Dedy Permadi menjelaskan bahwa pertumbuhan pengguna internet yang tinggi tidak diimbangi dengan literasi digital. “Tinggi dan massif nya pembangunan infrastruktur belum diimbangi dengan pengetahuan penggunaan TIK dengan baik. Sehingga terjadi gap antara teknologi dan pengetahuan yang rendah. Infrastuktur yang dibangun tidak diimbangi pengetahuan. Gap ini yang mengakibatkan keresahan sehingga muncul hoax, cyberbullying, radikalisme,” jelas Dedy.
#SiBerkreasi merupakan Gerakan Nasional Literasi Digital yang merupakan kolaborasi berbagai institusi pemerintah maupun swasta, komunitas dan pegiat literasi digital. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, Kementerian Sekretaris Negara. Komis Penyiaran Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan berbagai komunitas seperti Internet Governance Forum, ICT Watch, PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), Nawala.org, Indonesia Child Online Protection (ID-COP: ECPAT Indonesia, RAS Foundation dan Yayasan Sejiwa), Internet Sahabat Anak, IWITA Jakarta, ID Talent, Sebangsa, PARFI 56, Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada, Relawan TIK Indonesia, MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Japelidi (Jaringan Penggiat Literasi Digital), Kumpulan Emak Blogger dan Layaria.
Gerakan #SiBerkreasi juga mendapat dukungan penuh dari para influencer dan konten kreator seperti Marcella Zalianti, Yosi Mokalu (Project-Pop), Marsha Tengker, Dennis Adhiswara, dan masih banyak lagi.