“Program Coding Teacher Academy memberikan kesempatan bagi 2.000 guru TIK SMK, SMA, SMALB atau Madrasah Aliyah untuk meningkatkan skill di bidang pemrograman,” jelas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia, Kementerian Kominfo, Basuki Yusuf Iskandar dalam Pembukaan Batch I CTA di Pusat TIK Nasional, Tangerang Selatan, Banten, pada hari Senin, 1/7/2019.
Menurut Basuki, program ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan mengenai pemrograman berbasis Python kepada para guru TIK. “Setelah mengikuti program ini, guru-guru dapat meneruskan ilmu pengetahuan yang di dapat kepada siswa siswi di sekolah tempat mengajar,” tuturnya.
Kepala Balitbang SDM Kementerian Kominfo mengharapkan semua peserta dapat mendukung upaya pemerintah dalam menyiapkan tenaga terampil agar Indonesia bisa menerapkan revolusi industri 4.0.
Pelatihan CTA ini berlangsung di enam lokasi, yaitu Balai Pelatihan dan Pengembangan TIK Cikarang-Bekasi, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Kominfo – Jakarta Barat, Pusat TIK Nasional Ciputat-Tangerang Selatan, Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta, Wisma MM Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta University Club Yogyakarta.
Total peserta pelatihan CTA ini sebanyak 1.817 orang guru TIK dari Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Jawa Timur. Sebagai salah satu Program DTS 2019, CTA ini dikhususkan untuk para guru bidang TIK pada SMK, SMA, SMALB, dan Madrasah Aliyah serta terbuka bagi Guru PNS dan Non PNS. CTA berlangsung dengan model pembelajaran kombinasi tatap muka dan daring selama 70 jam pelajaran.
Program DTS 2019 merupakan program pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai bagian dari prioritas pembangunan prioritas nasional. Beasiswa pelatihan kompetensi DTS 2019 ditujukan untuk meningkatkan keterampilan (up-skilling) SDM bidang Komunikasi dan Informatika sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa.
Melalui Program DTS 2019 Kementerian Kominfo memberikan beasiswa pelatihan bidang paling mutakhir seperti Artifical Intelligence, Big Data, Cloud Computing, Cyber Security, Internet of Things, dan Machine Learning guna menyambut Revolusi Industri 4.0.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), mengagendakan 28 workshop dan 4 seminar yang dilaksanakan secara paralel dan berkesinambungan.
“Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi pemersatu bangsa dalam pelaksanaan dan mendukung industri digital,” ucap Dedi Taufik dalam sambutannya.
Ketua Pelaksana FESTIK 2018 Muhammad Arifin mengatakan, pelaksanaan acara berada di dua tempat, yakni di Graha Pena Radar Cirebon dan SMAN 4 Kota Cirebon.
“Tujuan dari FESTIK untuk mengedukasi, mengapresiasi dan menginspirasi masyarakat terkait pemanfaatan TIK guna mendukung dan meningkatkan kesatuan dan persatuan, serta memperkenalkan perkembangan TIK dan teknologi digital kepada masyarakat,” ujarnya.
Ketua Umum RTIK Indonesia, Fajar Eri Dianto mengatakan, Festik 2018 ini merupakan kali ke-7 dan Kota Cirebon terpilih menjadi tuan rumah. Tujuan utama dari Festik 2018 adalah untuk memperkokoh tali silaturahmi antarRTIK se-Indonesia guna bersama bergandengan tangan demi memajukan negeri menjadi lebih baik dari segala aspek ke depannya, sambung Fajar Eri.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh Relawan TIK dari 34 provinsi, 400 pengurus wilayah, cabang serta 98 mitra kerja sama. Selain menggelar workshop dan seminar, dalam acara yang bertema ‘Sehati Ing Smart City’ itu juga dimeriahkan pameran produk teknologi seperti start up, aplikasi smart city dan e-commerce.
Produk UMKM seperti makanan, aksesori dan buah tangan juga turut dihadirkan dalam bazar. Uniknya semua pembayarannya dilakukan secara non tunai. Selain itu, juga diadakan penandatangan MoU Relawan TIK dan pondok pesantren tentang Pendampingan Santri Digital.
APKOMINDO turut hadir memeriahkan gelaran FESTIK 2018 dengan menghadirkan workshop Digital Printing yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2018. Workshop ini diikuti oleh mahasiswa serta guru-guru yang ada di sekitar wilayah Cirebon. Selain itu, FESTIK 2018 juga menggelar seminar nasional dengan tema Membangun Smart City, Membangun Smart Society yang menghadirkan pembicara antara lain pakar IT, Onno W. Purbo.
Turut hadir dalam acara ini Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian & Maritim Kemenkominfo Septriana Tangkary, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Rosarita Niken Widiastuti, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Barat Hening Widiatmoko, serta Kepala Dinasa Komunikasi Informasi dan Statistika (DKIS) Kota Cirebon, Iing Daiman.
Dalam kunjungan kehormatan tersebut, Menteri Kominfo meminta perhatian khusus ITU agar semakin banyak profesional Indonesia yang bekerja di kantor pusat dan kantor-kantor perwakilan ITU di berbagai belahan dunia, terutama bagi Warga Negara Indonesia yang berkompeten untuk mengisi pos-pos strategis.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki satu orang warga negara sebagai perwakilannya di ITU. Di antara sejumlah 700-an karyawan ITU, hanya 39 karyawan yang berasal dari negara-negara Asia. Republik Rakyat Tiongkok, India dan Korea masing-masing memiliki sembilan orang perwakilan, Filipina memiliki delapan orang perwakilan dan Malaysia memiliki empat orang perwakilan.
Permintaan dari pemerintah Indonesia kepada ITU ini didasari oleh tiga faktor. Pertama, Indonesia terus berupaya mewujudkan pembangunan literasi digital yang berkelanjutan; buktinya, jumlah pengguna internet Indonesia terus berkembang pesat, bahkan melampaui negara-negara lainnya di Asia. Faktor kedua, selama 16 tahun (atau empat periode, yakni 2002-2006; 2006-2010; 2010-2014 dan 2014-2018) Indonesia selalu menjadi anggota Dewan ITU yang secara aktif berpartisipasi di berbagai aktivitas ITU berskala global dan kawasan, maupun aktif menyelenggarakan berbagai forum-forum pertemuan, seminar dan lokakarya ITU di negara-negara Asia.
Selain kerja keras Indonesia dalam mewujudkan literasi digital yang berkelanjutan dan partisipasti aktif Indonesia di ITU, faktor ketiga yang melandasi permintaan Indonesia adalah semakin banyaknya individu-individu yang berdaya saing.
Di samping itu, Kementerian Kominfo meminta ITU untuk memberi kesempatan pelatihan dan magang bagi anak muda Indonesia yang berkompeten. Sejauh ini, ITU tidak membiayai peserta pelatihan di centre of excellence miliknya. Mengenai program magang di ITU, Kementerian Kominfo mencari beberapa opsi pendanaan untuk Warga Negara Indonesia yang berminat mengikuti program tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Telecommunication Union (ITU) H.E. Houlin Zhao menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat.
“Saya sangat bangga melihat pertumbuhan Indonesia yang sangat luar biasa, tumbuh dengan pesat menjadi negara nomor 2 di wilayah ASEAN. Negara ini memiliki tujuan dan visi yang jelas,” tutur H.E. Houlin Zhao saat memberikan Kuliah Umum di Ruang Roeslan Abdul Gani Kementerian Kominfo.
“Saya tahu pemerintah Indonesia memiliki strategi yang sangat-sangat baik dalam menghadapi permasalahan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satunya melalui Proyek Palapa Ring dan satelit,” jelasnya.
H.E. Houlin Zhao juga turut menyanjung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. “Saat ini Indonesia punya banyak sekali UMKM. Anda bisa temukan pengusaha muda di mana-mana. Sangat dinamis, hi-tech. UMKM punya teknologinya, mereka paham akan pasarnya, sehingga mereka mampu untuk mengembangkan aplikasinya sendiri.”
Kuliah umum ini merupakan rangkaian kegiatan H.E. Houlin Zhao dalam kunjungannya ke Indonesia. Turut hadir dalam kuliah umum tersebut Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Ahmad M. Ramli, Kepala Badan Litbang SDM Basuki Yusuf Iskandar, Sekjen Farida Dwi Cahyarini, serta Chairman MASTEL.
Saat ini, hampir semua orang memanfaatkan gadget dan internet sebagai satu sarana untuk berkomunikasi, bersosialisasi maupun berbisnis. Semua kegiatan kini dapat dilakukan dengan gadget dan koneksi internet. Dari total 262 juta populasi penduduk Indonesia, pengguna internet tercatat mencapai 132 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 67% pengguna internet berusia 13-24 tahun, cenderung mengakses YouTube dan 51% lainnya mengakses Netflix, sekitar 48% bermedia sosial dan 36% melalui TV kabel.
Media sosial saat ini dianggap sebagai satu wujud demokrasi digital karena dianggap tidak ada kontrol dari pemerintah. Semua dikontrol oleh pengguna media sosial itu sendiri. “Pengguna medsos 106 juta dengan akses internet 3,25 jam/perhari,” ujar Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan dalam seminar bertajuk Indonesia Cerdas Bermedsos di Jakarta, Jumat 8 Desember 2017.

Lebih lanjut, Semuel mengingatkan bahaya dibalik penggunaan gawai, terutama untuk bersosialisasi di media sosial seperti penyebaran hoax, ujaran kebencian, dan siber bullying. Beberapa kasus seperti ujaran kebencian, siber bullying dan hoax kerap terjadi di Indonesia. Ironis, 65% pengguna internet cenderung langsung mempercayai informasi di dunia maya. “Itu dampak teknologi tanpa literasi,” ujarnya. “Atas kondisi ini kita perlu membentenginya dengan perilaku sederhana. Saring sebelum sharing, cek sebelum menyebar informasi. Budayakan tabayyun,” papar Semuel.
Dikatakan Sammy, saat ini telah tersedia sejumlah komponen pengendalian media sosial yang efektif. Diantaranya ada Undang-Undang (UU) nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain itu, juga telah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 24 tahun 2017 tentang Hukuman dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Anda juga dapat melaporkan konten negative melalui aduankonten.id.
Lebih lanjut Semuel memaparkan ke depan perlu disiapkan kepada generasi penerus bangsa untuk memahami bagaimana cara menghadapi kondisi digital. “Kominfo mengajak agar masyarakat aktif untuk turut melaporkan konten negatif. Selain juga kami berkampanye untuk mengurangi konten-konten negatif di media sosial,” tukasnya.
Senada dengan Semuel, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Kombes M Iqbal mengungkapkan salah satu fokus prioritas korps Bhayangkara adalah betapa bahayanya hoax. “Maka edukasi kami lakukan dengan menggandeng berbagai instansi,” ujar Iqbal.
Mantan Kapolrestabes Surabaya itu menambahkan, pencegahan sebagai sesuatu yang paling penting. Bahkan, polisi ada patroli siber, penegakan hukum sebagai salah satu misi menjaga kondisi masyarakat yang stabil. Adapun patroli dunia maya kepolisian, terang Iqbal, dilakukan dengan pendekatan terlebih dahulu. Patroli dunia maya dilakukan atas informasi yang dinilai meresahkan masyarakat.
Sementara Staf Ahli Menkominfo Henri Subiakto menyebut, data digital adalah data yang paling mudah dicari. Karena itu, dia mengajak generasi digital untuk menjadikan media sosial sebagai ranah pribadi untuk berperilaku lebih baik. “Pikir dua kali saat melakukan posting,” tandas Henri.
Sumber: mudamudidigital.id
Dalam perhelatan ASEAN Telsom/Telmin 2017 yang dihelat pada tanggal 27 November hingga 1 Desember 2017 di Siem Reap, Kamboja, juga diselenggarakan kompetisi digital yaitu ASEAN ICT Award 2017 (AICTA). Final dan penjurian ASEAN ICT Award ini berlangsung pada Rabu 30 November 2017.
AICTA merupakan inisiatif yang digagas oleh Menteri-menteri Telekomunikasi se-ASEAN. Inisiatif ini sejalan dengan salah satu dari 6 langkah strategi ASEAN yang tercantum pada ASEAN ICT Masterplan (AIM) yaitu promosi, inovasi dan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat dan lembaga lainnya.
Terdapat 6 kategori dalam kompetisi AICTA yaitu Public Sector, Private Sector, Coorporate Social Responsibility, Digital Content, Startup Company dan Research and Development. Pada tahun ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika mengirimkan 1 peserta yaitu Hoax Analyzer dari Tim CIMOL pada kategori Research and Development.
Pada ajang AICTA tersebut, Tim CIMOL dengan hasil karyanya “Hoax Analyzer” berhasil mendapatkan penghargaan Gold Winner sebagai juara pertama untuk kategori R&D tersebut. Tim Cimol “Hoax Analyzer” adalah Tim 3 Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Adinda Budi Kusuma Putra dan Feriyandi Nurdiantoro serta Tiffany. Pada ajang ini Tiffany tidak dapat hadir karena sedang belajar pascasarjana di Jepang.
Tim Cimol mendapatkan keunggulan 9 Juri dari 12 Juri yang memberikan penilaian. Peserta tahap final dalam kategori R&D diikuti oleh 3 Peserta dari 2 negara yaitu 1 peserta Indonesia dan 2 peserta Thailand, sehingga Awards Silver dan Bronze diberikan kepada 2 peserta Thailand.
Dari 6 Kategori dalam AICTA dan proses penjurian final pada 30 November tersebut diperoleh pemenang Gold yaitu Kamboja mendapatkan 3 Gold, Indonesia 1 Gold, Singapura 1 Gold dan Laos 1 Gold. Ajang final AICTA ini diikuti oleh peserta-peserta dari 6 Negara yaitu Indonesia, Kamboja, Laos, Singapura, Thailand dan Vietnam yang masuk sampai ke tahap final, sedangkan peserta-peserta 4 negara lain yaitu Brunei, Filipina, Malaysia dan Myanmar tidak masuk sampai ke tahap final. Peserta Indonesia yang Lolos sampai tahap final 1 Peserta Tim Cimol di antara 15 peserta Indonesia lainnya.
Penyerahan Award AICTA berlangsung pada saat Gala Dinner AICTA 2017, Kamis 30 November 2017. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan didampingi Sekretaris Jenderal ITU Houlin Zhou yang turut hadir dalam ASEAN Telmin menyerahkan langsung penghargaan kepada Tim Cimol Indonesia. Selanjutnya unttuk penyelenggaraan AICTA 2018 akan berlangsung di Indonesia bersamaan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan ASEAN Telsom/Telmin pada tahun 2018.

Kompetisi di bidang keuangan, menurut Menteri Kominfo dapat dilakukan oleh perbankan Indonesia dengan beradaptasi dengan perkembangan dunia digital. “Sistem bank yang ada di Indonesia sebaiknya mencontoh sistem keuangan perusahaan e-Commerce Indonesia yaitu Go-Jek, sesuai dengan perkembangan ekonomi digital saat ini sehingga perekonomian di Indonesia dapat lebih berkembang,” katanya.
Menteri Kominfo menyatakan untuk memajukan perekonomian di Indonesia dan mendukung inovasi generasi muda, ada 7 isu utama dalam dunia digital economy yang m menjadi perhatian Kementerian Kominfo. “Tujuh isu utama yang harus kita perhatikan untuk memajukan perekonomian di Indonesia pertama Human Capital, yang kedua funding start-up, ketigaTaxation, keempat cyber security, kelima ICT infrastructure, keenam consumer protection, dan yang ketujuh logistic,” paparnya.
Pada kesempatan ini Menteri Rudiantara menjelaskan pembangunan Palapa Ring yang dilakukan pemerintah Indonesia ber tujuan mendukung kelancaran proses pemajuan start-up di Indonesia. “Bagaimana kita bisa menghubungkan semuanya di Indonesia, mulai dari rakyat, instansi seperti rumah sakit, sekolah, sampai perusahaan, hal itu dapat diwujudkan dengan dibangunnya Palapa Ring, dengan begitu, semua bisa terkoneksi satu dengan yang lain,” terangnya.
Kegiatan 2JICF digelar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk membangun komunikasi antar pemangku kebijakan yang memiliki konsentrasi sama dalam penegakan hukum persaingan usaha, terutama ketika memasuki era ekonomi digital. Kegiatan bertema Disruptive Innovation, Competition Policy & Challenges to Emerging Markets itu menghadirkan narasumber antara lain CEO Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim, CCS Singapura Ng Ee Kia, Mckinsey India Toshan Tamhane, Hassan Qaqaya dari Melbourne University, dan beberapa stakeholders lainnya.
www.kominfo.go.id
Beberapa waktu lalu, dunia siber dikejutkan dengan adanya temuan satu teknik baru yang mampu membobol jaringan internet nirkabel WiFi(Wireless Fidelity). Adalah seorang Mathy Vanhoef, peneliti keamanan asal Belgia dari Katholieke Universiteit Leuven yang menemukan teknik tersebut.
Satu temuan celah keamanan ini disebut KRACKs (Key Reinstallation Attacks), teknik ini mampu mendekripsi data yang dikirim dari router ke perangkat yang sedang digunakan dan sebaliknya. Dalam kata lain, data tetap dapat dicuri meski perangkat sedang tidak terhubung ke WiFi.
Saat perangkat terhubung ke internet melalui WiFi, terjadi sebuah proses pada sistem untuk memastikan kebenaran kata sandi yang diinput. Proses ini juga mengaktifkan koneksi yang terenkripsi antar router dan perangkat. Teknik ini tidak hanya memungkinkan dekripsi data pada router dan perangkat. Apabila konfigurasi router kurang kuat, KRACKs juga memungkinkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membaca data pada alat penyimpanan (storage) yang tersambung ke router.
Saat ini, vendor perangkat sedang mencari solusi terbaik yang menyeluruh untuk mengantisipasi KRACKs. Kominfo memberikan tips dalam mengatasi celah ini, seperti yang tertuang dalam laman resminya. Berikut empat tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk sementara waktu:
Selain empat tindakan preventif di atas, penting untuk selalu melakukan dua hal berikut:
“Kita tidak bisa menumbuhkembangkan ekonomi services media dan komunikasi ini kalau ketiga ekosistem ini tidak berjalan bersama,” katanya dalam acara Indonesia Next Apps 4.0 (INA 4.0) di Ayana Midplaza Hotel Ballroom, Jakarta, Senin (09/10/2017).
Menteri Kominfo mengatakan pemerintah senantiasa memberikan nilai tambah yang diberikan dan dihasilkan oleh masyarakat Indonesia. “Dari sisi network dan device adalah kebijakan TKDN atau keharusan menggunakan komponen dalam negeri. Dan hal ini dibicarakan tahun 2015 oleh Kementerian Kominfo, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan,” jelasnya.
Lebih lanjut Menteri Rudiantara menyatakan perkembangan layanan 4G sejak tahun 2014, harus dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. “Sehingga keluarlah peraturan yang namanya kebijakan komponen dalam negeri untuk device 4G mulai 1 Januari 2017 30% dan untuk network 40%,” tuturnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga berupaya menggerakkan perekonomian dengan mengundang investor. “Kita negara yang harus juga berkompetisi dengan negara lain bahkan di ASEAN sekalipun, agar kita bisa mengundang investor masuk ke Indonesia, menggerakkan ekonomi lebih cepat lagi,” tambah Menteri Rudiantara.
Sementara untuk pengembangan ekosistem aplikasi, Menteri Kominfo mengapresiasi acara INA 4.0. Secara khusus ia mengajak pabrikan gawai untuk mendorong lebih banyak lagi developer selaku sumber daya industri ICT untuk menghasilkan aplikasi-aplikasi yang bermanfaat. “Permasalahan pertama dalam ekonomi digital kita adalah sumberdaya manusia. Di Perpres tentang jalan e-commerce, tujuh mega issues, permasalahan nomor satu adalah sumber daya manusia,” jelasnya.
Indonesia Next Apps 4.0 (INA 4.0) merupakan kompetisi nasional tahunan yang diselenggarakan oleh Samsung Electronics Indonesia untuk meningkatkan inovasi dalam pemanfaatan teknologi melalui pembuatan aplikasi lokal. Periode kompetisi dibuka sejak 25 Juli sampai dengan 18 September 2017. Selama kompetisi, INA 4.0 berhasil menarik keikursertaan lebih dari 1.600 developer dari seluruh Indonesia.
https://www.kominfo.go.id/content/detail/10857/kembangkan-ekonomi-layanan-ekosistem-tik-harus-sinergis/0/berita_satker
“Ini bukan program pemerintah saja tapi juga program perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat. Concern Kominfo adalah merangkul komunitas dan ekosistem untuk menyebarkan konten positif,” ungkap Rudiantara pada diskusi SiBerkreasi.
Berdasarkan data dari 1 Januari hingga 18 September 2017, total aduan dari masyarakat dan instansi terkait konten negatif mencapai 42.821 aduan. Dimana posisi pertama ditempati aduan mengenai SARA/kebencian (13.829), kemudian disusul aduan pornografi (13.120), dan berita bohong (hoax) sebanyak 6.973 aduan. Sedangkan untuk total pemblokiran situs hingga 18 September sudah mencapai 782.316 situs.
Ketua Umum Gerakan #SiBerkreasi Dedy Permadi menjelaskan bahwa pertumbuhan pengguna internet yang tinggi tidak diimbangi dengan literasi digital. “Tinggi dan massif nya pembangunan infrastruktur belum diimbangi dengan pengetahuan penggunaan TIK dengan baik. Sehingga terjadi gap antara teknologi dan pengetahuan yang rendah. Infrastuktur yang dibangun tidak diimbangi pengetahuan. Gap ini yang mengakibatkan keresahan sehingga muncul hoax, cyberbullying, radikalisme,” jelas Dedy.
#SiBerkreasi merupakan Gerakan Nasional Literasi Digital yang merupakan kolaborasi berbagai institusi pemerintah maupun swasta, komunitas dan pegiat literasi digital. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, Kementerian Sekretaris Negara. Komis Penyiaran Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan berbagai komunitas seperti Internet Governance Forum, ICT Watch, PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), Nawala.org, Indonesia Child Online Protection (ID-COP: ECPAT Indonesia, RAS Foundation dan Yayasan Sejiwa), Internet Sahabat Anak, IWITA Jakarta, ID Talent, Sebangsa, PARFI 56, Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada, Relawan TIK Indonesia, MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Japelidi (Jaringan Penggiat Literasi Digital), Kumpulan Emak Blogger dan Layaria.
Gerakan #SiBerkreasi juga mendapat dukungan penuh dari para influencer dan konten kreator seperti Marcella Zalianti, Yosi Mokalu (Project-Pop), Marsha Tengker, Dennis Adhiswara, dan masih banyak lagi.
Upacara pembukaan FESTIK 2017 ini dihadiri pula oleh Direktur Pemberdayaan Industri Informatika Kominfo, Septriana Tangkary, SE. MM mendampingi ratusan relawan TIK dari 34 provinsi. Ketua Relawan TIK(RTIK), Fajar Eri Dianto selaku penyelenggara event mengucapkan terimakasih atas kerja keras seluruh anggota RTIK hingga terlaksananya event ini secara mandiri.
Sementara itu, Septriana Tangkary dalam sambutannya mewakili Menkominfo mengungkapkan bahwa festival TIK diadakan bertujuan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan di bidang TIK untuk berbagi pengalaman. Selain itu, acara kali ini juga dimaksudkan untuk memberikan literasi teknologi informasi kepada masyarakat Aceh agar dapat memanfaatkan TIK secara cerdas, kreatif dan produktif.
Kemudian, dalam sambutannya, Wakil Gubernur Banda Aceh, Nova Iriansyah mengungkapkan apresiasinya terhadap Relawan TIK yang mampu menyelenggarakan FESTIK 2017 ini dengan meriah dan heboh. “Kerja keras, optimisme diiringi doa akan membawa kesuksesan dan kejayaan,”ujar Nova.
Nova juga menggaris bawahi sambutan Menkominfo, bahwa semua yang terkait dengan aktivitas internet adalah sebuah ekosistem. Tidak ada satu stelsel pun yang boleh pasif, semuanya harus bergerak sesuai kemampuan. Untuk itu, sebagai wakil pemerintahan di Banda Aceh, Nova sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan para relawan TIK dalam melaksanakan berbagai program unggulan di bidang TIK.
Upacara pembukaan dilakukan dengan penabuhan rapai secara serentak oleh wakil gubernur Banda Aceh, Direktur Pemberdayaan Industri Informatika, serta seluruh pendukung acara. Setelah upacara pembukaan selesai, acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU kerjasama antara Relawan TIK dengan berbagai instansi diantaranya APKOMINDO, APTIKOM, APJII, TELKOM, PANDI, dll untuk pelaksanaan program-program di tahun 2018.
Dalam FESTIK 2017 ini selain pameran, juga diadakan seminar-seminar dengan tema Literasi Internet Pilar Ekonomi dan Pariwisata Digital Indonesia yang menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten dibidangnya. Selain seminar, FESTIK 2017 juga akan menyelenggarakan rangkaian workshop yang akan menghiasi pelaksanaan festival selama 2 hari di Banda Aceh.