Hal ini diungkap dalam dokumen paparan sosialisasi penyederhanaan kurikulum dan asesmen milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dalam paparan itu, terdapat sejumlah perubahan mata pelajaran yang dalam kurikulum baru.
Pada kelas 10 jenjang SMA, terdapat banyak perubahan dan penyederhanaan mata pelajaran. Ada dua mata pelajaran baru yang wajib diikuti siswa, yakni informatika dan program pengembangan karakter. Sedangkan pelajaran bahasa dan sastra mandarin dihapus.
Kemudian pelajaran biologi, fisika, dan kimia digabung menjadi IPA. Pelajaran sejarah Indonesia dan ekonomi berubah menjadi IPS. Pelajaran seni budaya dan prakarya serta kewirausahaan digabung menjadi seni dan prakarya.
Selanjutnya, untuk kelas 11 dan 12 jenjang SMA, pelajaran informatika lanjutan dikelompokkan sebagai mata pelajaran pilihan untuk jurusan IPA. Sama dengan sejarah yang menjadi mata pelajaran pilihan untuk jurusan IPS. Dengan demikian, siswa bisa memilih atau tidak memilih pelajaran tersebut.
Pada jenjang SMP pelajaran informatika serta seni dan prakarya dipisah. Pelajaran tersebut dijadikan mata pelajaran sendiri. Pada jenjang SMP, kebanyakan perubahan berfokus pada kompetensi dan isi mata pelajaran.
Selain itu, Kemendikbud juga menganggarkan Rp1,49 triliun sebagai upaya mendigitalisasi sekolah. Anggaran tersebut akan dipakai untuk penyediaan sarana TIK di sekolah, penguatan platform digital, mengembangkan konten belajar di TVRI, dan bahan belajar pendidikan digital.
Mendikbud menyebutkan, mitra industri yang memberikan bantuan dana revitalisasi untuk kegiatan vokasi akan diberikan keringanan pajak sebesar dua ratus persen dari dana yang dikeluarkan. “Jadi misalnya jika mitra SMK Negeri 1 mengeluarkan bantuan dana sebesar dua milyar untuk revitalisasi SMK, baik untuk pelatihan guru, peralatan, dan pembangunan, maka dia akan mendapatkan pengurangan sebesar 4 milyar”, jelas Muhadjir.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019, insentif super deduction untuk kegiatan vokasi merupakan fasilitas Pajak Penghasilan dalam bentuk pengurangan penghasilan bruto sebanyak paling tinggi dua ratus persen dari biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan vokasi.
Mendikbud, yang dalam kunjungannya didampingi oleh Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, dan Kepala Subdirektorat Program dan Evaluasi Pembinaan SMK, Arie Wibowo Khurniawan, berkesempatan melihat berbagai fasilitas pendukung praktik kerja di SMK Negeri 1 Jakarta. Ia menilai berbagai fasilitas yang ada sudah memadai, namun tetap perlu ditingkatkan agar sesuai dengan tuntutan industri 4.0.
Untuk mendukung peningkatan tersebut, SMKN 1 Jakarta akan menjadi salah satu SMK yang menerima revitalisasi dari Kemendikbud. “Sudah ada empat ruangan yang dibangun dari pemerintah provinsi, Kemendikbud nanti akan bantu peralatan yang dibutuhkan saja” ujar Muhadjir.
Kemendikbud menargetkan revitalisasi SMK sebanyak-banyaknya, dengan kebutuhan dana yang berbeda-beda, sesuai dengan bidang keahlian di SMK tersebut. Bantuan dana sebesar tujuh sampai dengan lima belas milyar rupiah akan diterima oleh SMK yang mendapatkan bantuan dana revitalisasi.
www.kemdikbud.go.id
Untuk itu, Mendikbud mengimbau kepada peserta ASB agar memanfaatkan forum ini untuk menjalin kerjasama, menjalin hubungan, saling mengenal, kalau bisa diabadikan menjadi sebuah persaudaraan. “Menjadi sebuah pertemanan yang abadi. Saling berkomunikasi antara satu sama lain. Itulah namanya jaringan, itulah namanya developing, jadi developing yang benar, bukan yang dibangun dari jaringan dunia maya”, ujar Mendikbud.
Peserta ASB, dikatakan Mendikbud, berasal dari latar belakang dan daerah yang berbeda-beda. “Tapi satu yang harus anda pahami, anda adalah satu yaitu anak Indonesia”, tegas Muhadjir Effendy.
Bahkan, menurut Mendikbud, yang lebih hebat lagi semua peserta ASB adalah siswa-siswa berprestasi. Dari sekitar 10 juta siswa SMA dan SMK, yang diundang dalam acara ini hanya 300 orang, yaitu hanya siswa-siswa yang memiliki keunggulan komparatif diantara seusianya. “Artinya, kamu semua yang menentukan masa depan Indonesia”, kata Mendikbud.
Selanjutnya Mendikbud menyampaikan pengalamannya sebagai mantan aktivis mahasiswa yang sering bertemu dan membangun hubungan dengan mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Papua sampai Aceh. “Ketika saya di Jakarta, menjadi menteri, teman seangkatan saya banyak di sini, ada di beberapa pemerintahan dan semua itu memperlancar tugas saya sebagai menteri”, ungkap Mendikbud.
Jaringan dulu, menurut Mendikbud, tidak selengkap sekarang. Kalau sekarang diperkuat dengan media sosial, yang bisa mempercepat dan memperlancar hubungan yang dibangun. “Jadi anakku sekalian, manfaatkan pertemuan ini untuk menjalin hubungan itu. Saya sangat percaya kepada kamu semua. Kalau ada generasi yang membentuk kelompok kuat untuk membangun masa depan Indonesia seperti anda semua, saya yakin Indonesia tidak kehilangan peluang untuk menjadi negara besar dan maju”, harap Muhadjir.
Dalam memajukan bangsa ini, kata Mendikbud, ada prasyaratnya, salah satunya adalah infrastruktur atau prasarana. Sebelum ada sarana, harus didahului dengan prasarana. Pra itu sebelum, jadi sebelum ada kendaraan harus ada jalannya, sehingga jalan adalah prasarana, dan kendaraan itu adalah sarananya. Infrastruktur adalah mutlak apabila kita ingin maju, tidak ada satupun negara maju tanpa didukung infrastruktur yang kuat.
“Kalau melihat judulnya STEM dan Revolusi Industri 4.0, ini jelas merupakan tema yang sangat futuristik. Pendidikan selalu bicara masa depan, berdasarkan pengalaman masa lampau dan masa kini”, demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemendikbud), Totok Suprayitno, saat membuka Workshop Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) dan Revolusi Industri 4.0, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Kamis (13/12/2018).
“Kita melihat masa depan, karena kita ingin mendidik anak-anak kita untuk hidup di masa depan. Pendidikan sendiri ditujukan untuk hidup secara bermartabat, agar anak-anak kita bisa menjalani kehidupan secara bermartabat, dan sekaligus bisa memartabatkan kehidupan itu sendiri, serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Totok.
Selanjutnya, Totok menjelaskan, pendidikan science, technology, engineering, mathematics, memberikan peluang bagi guru untuk memperlihatkan kepada peserta didik bahwa konsep, prinsip, dan teknik dari sains, teknologi, kerekayasaan, dan matematika dapat digunakan secara terintegrasi, dan tidak bermakna hanya penguatan praksis pendidikan dalam bidang-bidang STEM secara terpisah. Tapi memfokuskan proses pendidikan pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan profesi mereka nanti.
“Kalau kita ingin menyiapkan anak, maka kita perlu menyiapkan diri. Diri dan sekolah sebagai miniatur masyarakat masa depan. Kita perlu menyiapkan anak-anak itu untuk memilih perjalanan kehidupan yang unpredictable. Kehidupan yang membutuhkan creative thinking, serta critical thinking dalam memecahkan berbagai persoalan yang belum diprediksi sebelumnya dan itulah yang dinamakan High Order Thinking Skills (HOTS). Jadi STEM memerlukan penalaran tingkat tinggi,” tutur Totok.
Totok menambahkan, upaya mendiseminasikan dan menginisiasi pendekatan STEM dalam pembelajaran telah dilakukan oleh berbagai pihak, hal ini tergambar pada praktik baik pendekatan dalam pembelajaran di sekolah.
Totok menyayangkan ketidaksiapan para siswa ketika menjawab soal Ujian Nasional (UN). “Anak anak kita didalam UN, biasanya lemah ketika menerjemahkan persoalannya apa, kemudian memecahkan dengan menggunakan konsep matematika. Kalau disajikan soal dengan matematika tersembunyi, susahnya banyak, jeblok. Yang bisa itu (hanya) 6%, 5%, tapi kalau sudah diketahui rumusnya, jago. Jadi pembelajaran kita tampaknya sangat rumus oriented”, pungkas Totok.
Workshop sehari yang mengangkat tema “Praktik Baik Pembelajaran STEM dan HOTS dalam Menyongsong Revolusi Industri 4.0”, bertujuan untuk menggali beragam praktik baik di sekolah, guna memetakan dan mengelaborasi ragam kriteria praktik pembelajaran yang dapat dinyatakan sebagai pendekatan STEM pada pembelajaran.
Sorni yang juga salah satu narasumber memaparkan tentang makna dan nilai-nilai strategis yang dimiliki oleh GNRM kepada 44 orang peserta yang terdiri dari enam guru Pendamping dan 38 siswa perwakilan SMA/SMK/MAN se-DKI Jakarta. “Gerakan Nasional Revolusi mental adalah gerakan sosial untuk mengubah cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai-nilai, dan perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian,” jelas Sorni.
Acara sosialisasi ini sangat diperlukan untuk memperkenalkan GNRM lebih dalam kepada generasi muda sebagai garda terdepan dari revolusi mental. “Adik-adik di sini merupakan target/mitra strategis untuk menyebarluaskan pesan-pesan revolusi mental kepada pelajar lain. Saya berharap sosialisasi ini dapat menambah pengetahuan adik-adik tentang revolusi mental sehingga dapat dipraktikkan secara riil/nyata saat adik-adik kembali ke masyarakat nanti,” ujar Sorni.
Sosialisasi GNRM melalui Media sosial ini merupakan kerjasama Sekretariat Revolusi Mental dengan Kemdikbud dan Kominfo yang akan diselenggarakan dari tanggal 26 hingga 28 Juli 2017. Pada kegiatan sosialisasi ini, peserta akan dibekali pegetahuan tentang nilai-nilai GNRM dan pelaksanaan literasi digital yang baik sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan nilai-nilai GNRM kepada masyarakat lainnya.
Selain itu, dilangsungkan pula sesi diskusi untuk membahas perkembangan internet di Indonesia dan bahaya yang tersembunyi di dalamnya oleh Tim Relawan TIK dari Kominfo. Para peserta yang mayoritas merupakan siswa/siswi kelas sebelas SMA/SMK/MAN ini juga diajak untuk belajar membedakan berita hoax dan berita benar serta cara menyikapinya. Dari kegiatan sosialiasi ini, diharapkan peserta dapat menggunakan media social secara positif.