Dalam kunjungan kehormatan tersebut, Menteri Kominfo meminta perhatian khusus ITU agar semakin banyak profesional Indonesia yang bekerja di kantor pusat dan kantor-kantor perwakilan ITU di berbagai belahan dunia, terutama bagi Warga Negara Indonesia yang berkompeten untuk mengisi pos-pos strategis.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki satu orang warga negara sebagai perwakilannya di ITU. Di antara sejumlah 700-an karyawan ITU, hanya 39 karyawan yang berasal dari negara-negara Asia. Republik Rakyat Tiongkok, India dan Korea masing-masing memiliki sembilan orang perwakilan, Filipina memiliki delapan orang perwakilan dan Malaysia memiliki empat orang perwakilan.
Permintaan dari pemerintah Indonesia kepada ITU ini didasari oleh tiga faktor. Pertama, Indonesia terus berupaya mewujudkan pembangunan literasi digital yang berkelanjutan; buktinya, jumlah pengguna internet Indonesia terus berkembang pesat, bahkan melampaui negara-negara lainnya di Asia. Faktor kedua, selama 16 tahun (atau empat periode, yakni 2002-2006; 2006-2010; 2010-2014 dan 2014-2018) Indonesia selalu menjadi anggota Dewan ITU yang secara aktif berpartisipasi di berbagai aktivitas ITU berskala global dan kawasan, maupun aktif menyelenggarakan berbagai forum-forum pertemuan, seminar dan lokakarya ITU di negara-negara Asia.
Selain kerja keras Indonesia dalam mewujudkan literasi digital yang berkelanjutan dan partisipasti aktif Indonesia di ITU, faktor ketiga yang melandasi permintaan Indonesia adalah semakin banyaknya individu-individu yang berdaya saing.
Di samping itu, Kementerian Kominfo meminta ITU untuk memberi kesempatan pelatihan dan magang bagi anak muda Indonesia yang berkompeten. Sejauh ini, ITU tidak membiayai peserta pelatihan di centre of excellence miliknya. Mengenai program magang di ITU, Kementerian Kominfo mencari beberapa opsi pendanaan untuk Warga Negara Indonesia yang berminat mengikuti program tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Telecommunication Union (ITU) H.E. Houlin Zhao menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat.
“Saya sangat bangga melihat pertumbuhan Indonesia yang sangat luar biasa, tumbuh dengan pesat menjadi negara nomor 2 di wilayah ASEAN. Negara ini memiliki tujuan dan visi yang jelas,” tutur H.E. Houlin Zhao saat memberikan Kuliah Umum di Ruang Roeslan Abdul Gani Kementerian Kominfo.
“Saya tahu pemerintah Indonesia memiliki strategi yang sangat-sangat baik dalam menghadapi permasalahan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satunya melalui Proyek Palapa Ring dan satelit,” jelasnya.
H.E. Houlin Zhao juga turut menyanjung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. “Saat ini Indonesia punya banyak sekali UMKM. Anda bisa temukan pengusaha muda di mana-mana. Sangat dinamis, hi-tech. UMKM punya teknologinya, mereka paham akan pasarnya, sehingga mereka mampu untuk mengembangkan aplikasinya sendiri.”
Kuliah umum ini merupakan rangkaian kegiatan H.E. Houlin Zhao dalam kunjungannya ke Indonesia. Turut hadir dalam kuliah umum tersebut Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Ahmad M. Ramli, Kepala Badan Litbang SDM Basuki Yusuf Iskandar, Sekjen Farida Dwi Cahyarini, serta Chairman MASTEL.
Dalam perhelatan ASEAN Telsom/Telmin 2017 yang dihelat pada tanggal 27 November hingga 1 Desember 2017 di Siem Reap, Kamboja, juga diselenggarakan kompetisi digital yaitu ASEAN ICT Award 2017 (AICTA). Final dan penjurian ASEAN ICT Award ini berlangsung pada Rabu 30 November 2017.
AICTA merupakan inisiatif yang digagas oleh Menteri-menteri Telekomunikasi se-ASEAN. Inisiatif ini sejalan dengan salah satu dari 6 langkah strategi ASEAN yang tercantum pada ASEAN ICT Masterplan (AIM) yaitu promosi, inovasi dan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat dan lembaga lainnya.
Terdapat 6 kategori dalam kompetisi AICTA yaitu Public Sector, Private Sector, Coorporate Social Responsibility, Digital Content, Startup Company dan Research and Development. Pada tahun ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika mengirimkan 1 peserta yaitu Hoax Analyzer dari Tim CIMOL pada kategori Research and Development.
Pada ajang AICTA tersebut, Tim CIMOL dengan hasil karyanya “Hoax Analyzer” berhasil mendapatkan penghargaan Gold Winner sebagai juara pertama untuk kategori R&D tersebut. Tim Cimol “Hoax Analyzer” adalah Tim 3 Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Adinda Budi Kusuma Putra dan Feriyandi Nurdiantoro serta Tiffany. Pada ajang ini Tiffany tidak dapat hadir karena sedang belajar pascasarjana di Jepang.
Tim Cimol mendapatkan keunggulan 9 Juri dari 12 Juri yang memberikan penilaian. Peserta tahap final dalam kategori R&D diikuti oleh 3 Peserta dari 2 negara yaitu 1 peserta Indonesia dan 2 peserta Thailand, sehingga Awards Silver dan Bronze diberikan kepada 2 peserta Thailand.
Dari 6 Kategori dalam AICTA dan proses penjurian final pada 30 November tersebut diperoleh pemenang Gold yaitu Kamboja mendapatkan 3 Gold, Indonesia 1 Gold, Singapura 1 Gold dan Laos 1 Gold. Ajang final AICTA ini diikuti oleh peserta-peserta dari 6 Negara yaitu Indonesia, Kamboja, Laos, Singapura, Thailand dan Vietnam yang masuk sampai ke tahap final, sedangkan peserta-peserta 4 negara lain yaitu Brunei, Filipina, Malaysia dan Myanmar tidak masuk sampai ke tahap final. Peserta Indonesia yang Lolos sampai tahap final 1 Peserta Tim Cimol di antara 15 peserta Indonesia lainnya.
Penyerahan Award AICTA berlangsung pada saat Gala Dinner AICTA 2017, Kamis 30 November 2017. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan didampingi Sekretaris Jenderal ITU Houlin Zhou yang turut hadir dalam ASEAN Telmin menyerahkan langsung penghargaan kepada Tim Cimol Indonesia. Selanjutnya unttuk penyelenggaraan AICTA 2018 akan berlangsung di Indonesia bersamaan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan ASEAN Telsom/Telmin pada tahun 2018.

Salah satu program ITU yang dikelola oleh koordinator Asia Pacific adalah International ICT Volunteer yang telah dirintis sejak 2012, dimana ITU menjadi pengelola kegiatan kerelawanan dalam bidang TIK di berbagai negara berkembang yang memerlukan. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi target kunjungan IIV hingga saat ini.
Dalam mempersiapkan ko
mpetensi IIV yang umumnya terdiri dari 4 anggota dalam sebuah team yang ditugaskan di berbagai negara Asia Pasific, IIV menyediakan pelatihan intensif dalam waktu 4 (empat) hari bagi calon IIV 2017 yang berlokasi di Korea. Sebagai informasi ITU bekerjasama dengan National Internet Society Agency di Korea dalam perekrutan dan pembinaan relawan yang bergabung dalam IIV.
Sebagai negara tujuan kegiatan ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia mempersiapkan Relawan TIK Indonesia untuk menjadi pasangan di wilayah local dalam pelaksanaan kegiatan kerelawanan di masyarakat dalam program REGOS yang akan dilaksanakan mulai 10 Juli sd 20 Agustus 2017. Wilayah yang akan melaksanakan aktivitas ini adalah: Banjarmasin, Bogor, Depok, Jepara, dan DKI Jakarta. Khusus DKI Jakarta, pendampingan dilakukan oleh Team APKOMINDO Excellent Center dan RTIK Indonesia.
Selama berlangsungnya kegiatan ini, peserta bootcamp memperoleh pelatihan bidang TIK, social budaya, metode sharing/pengajaran sekaligus bekal untuk beradaptasi di lingkungan yang baru bagi mereka. Dalam satu kesempatan, perwakilan negara tujuan seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam dan Srilanka juga memberikan pembekalan tentang program yang akan dilaksanakan di negara masing-masing.
Dalam rangka mempersiapkan kegiatan ini, perwakilan Relawan TIK dan Kemkominfo RI diundang untuk mengikuti General Meeting Ketiga di Osan City, Republik Korea pada 23 – 27 Mei 2017. Tujuannya adalah memastikan aktivitas akan dilaksanakan dengan persiapan yang baik dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan IIV yang memadai agar dapat berkontribusi sesuai kemampuan selama di Indonesia.
Lokasi bootcamp di Lotte Academy – Osan City yang jaraknya sekitar 90 menit berkendara dari bandara Incheon, Seoul. Lingkungan yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota besar menjadikan suasana belajar begitu menyenangkan. (Hani Purnawanti – Kabid Kemitraan Relawan TIK)