“Perjalanan menuju dunia yang cerdas telah dimulai. Eksplorasi dan inovasi di bidang teknologi yang telah dilaksanakan selama bertahun-tahun sudah mendorong pengembangan industri yang memberikan peluang bisnis yang besar. Huawei akan terus berkomitmen untuk membangun lebih banyak koneksi, memperbesar pipa data, dan menggiatkan transformasi digital.
Dengan berfokus pada infrastruktur TIK dan perangkat pintar, kita dapat merealisasikan dunia yang lebih cerdas dan menggerakkan proses yang saat ini tengah berjalan,” ujar Eric Xu, Rotating CEO Huawei, dalam pidato pembukaannya mengenai gambaran mendalam mengenai strategi perusahaan.
Eric Xu juga membahas tentang bagaimana penyediaan layanan cloud telah menjadi model bisnis dasar saat ini. Layanan cloud milik Huawei juga termasuk public cloud yang dikembangkan bersama dengan operator dan juga public cloud yang dioperasikan sendiri oleh Huawei.
“Transformasi digital membuka potensi baru untuk pertumbuhan yang berdasarkan nilai (value-driven) di industri tradisional,” ujar William Xu, Executive Director dan Chief Strategy Marketing Officer Huawei. Menurut hasil temuan dari Global Connectivity Index 2017, saat ini digitalisasi mulai populer di dunia. Investasi dalam komputasi awan (cloud computing) mulai dilakukan pada skala regional dan nasional, dan cloud mulai diterapkan pada berbagai aplikasi.
William Xu menekankan bahwa infrastruktur TIK merupakan pilar yang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, dan cloud, khususnya, merupakan kunci untuk memanfaatkan kekuatan konektivitas. Oleh karena itu, Huawei menyarankan agar negara-negara dan industri di berbagai sektor untuk mulai memperhatikan transformasi digital sebagai faktor untuk mendorong pertumbuhan.
Dalam presentasinya, Ryan Ding, Executive Director dan President of Products & Solutions Huawei, mengatakan “Dalam acara Huawei Global Analyst Summit tahun lalu, Huawei berkomitmen untuk menyokong, mempromosikan, dan memimpin evolusi All-Cloud. Huawei telah melaksanakan ini dan telah mengubah fokus untuk mengkomersialisasikan All-Cloud. Huawei sangat terbuka untuk bekerja sama dengan para mitra untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan baru dalam ekosistem industri TIK.”
Huawei Global Analyst Summit pertama kali diselenggarakan pada tahun 2004 dan telah berlangsung setiap tahun selama 14 tahun berturut-turut. Huawei Global Analyst Summit tahun ini dilangsungkan pada tanggal 11- 13 April 2017 dengan beberapa sesi yang dilaksanakan secara paralel. Acara ini juga dihadiri oleh para ahli dari berbagai negara, yang memberikan pandangan profesional mereka dalam berbagai topik dan tren.
Sebut saja keluarnya Inggris dari kelompok Uni Eropa, gonjang-ganjing negara OPEC dengan pasokan minyak dunia hingga yang terbaru terpilihnya Presiden AS Donald Trump. Peristiwa tersebut membuat beberapa mata uang negara berkembang porak-poranda, termasuk Rupiah yang runtuh pasca terpilihnya Trump.
Sebagian pengamat menilai tahun depan ada harapan bagi ekonomi Indonesia. Tapi tidak sedikit juga yang bilang kalau 2017 masih penuh dengan ketidakpastian. Bahkan, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia pada tahun depan masih dihantui oleh pelemahan ekonomi.
Dalam ekonomi outlook pada tanggal 10 November 2016, Darmin mengaku melihat adanya kemungkinan revisi asumsi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2017 mendatang. Darmin menyebutkan, ekonomi China masih berpotensi mengalami perlambatan pada tahun 2017 mendatang. Adapun harapan muncul pada ekonomi India yang masih tumbuh cukup tinggi.
Sementara, pengamat Ekonomi Anggito Abimanyu mengatakan, pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar 5,1% cukup rasional. Dia menilai, proyeksi tersebut berarti tidak ada perbaikan ekonomi yang cukup menonjol. Pemerintah juga dianggap tidak mengabaikan tantangan global sebagai tekanan yang akan membuat usaha-usaha meningkatkan ekonomi.
Lalu bagaimana proyeksi untuk industri TIK? Pasar komputer Indonesia memang lesu pada beberapa tahun terakhir. Harga penjualan komputer turun hingga 30% dalam tiga tahun terakhir. Ini adalah dampak dari naiknya penjualan smartphone yang naik hingga 50%. Itulah yang diungkapkan oleh Anggito Abimanyu saat menghadiri Apkomindo Member Gathering pada 9 Februari 2017 lalu.
Setidaknya ada 7 faktor yang mempengaruhi lesunya pasar komputer menurut Anggito. Ke 7 faktor tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi dan inflasi, daya beli perangkat komputer dan IT yang rendah, nilai tukar rupiah yang belum stabil, suku bunga perbankan, belanja APBD dan APBN, faktor selera konsumen dan perilaku digital serta faktor kebijakan pemerintah pusat dan daerah seperti pajak, bea masuk dan lain-lain.
Dari sisi inflasi, pemerintah menargetkan dalam APBN 2017, inflasi berada di kisaran 4%. Anggito menilai ada beberapa hal yang mungkin bisa mengerek inflasi tahun 2017. Namun, inflasi diyakini masih berada di kisaran 4%. Kenaikan tarif listrik, rencana kenaikan BBM juga bisa mendorong inflasi.
Pada tahun 2017 ini, Anggito lebih menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia sedikit memberikan optimisme. Resiko global “double T” (Trump dan Tiongkok) dan respons kebijakan makro domestik memberikan ketidakpastian dalam perekonomian Indonesia 2017.
Bahwa, perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan tetap tumbuh lambat (5,0-5,2%) dibarengi dengan pelemahan rupiah (Rp. 13.350-13.600) dan ekspektasi Inflasi (4,0-4,5%) dari kenaikan harga administered. Stabilitas sektor keuangan, khususnya penanganan NPL dan kenaikan kredit bermasalah serta kredibilitas kebijakan fiskal tetap akan menjadi ancaman serius di tahun 2017
Persoalan lemahnya daya beli juga belum teratasi hingga saat ini, bahkan berisiko terus berlanjut di tahun 2017 karena ekspektasi inflasi, naiknya suku bunga dan lambatnya pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah. Fokus ekspansi belanja pemerintah masih tertuju pada pembangunan infrastruktur sementara belum ada kebijakan fiskal atau sektoral untuk mendongkrak permintaan jangka pendek. Ekspansi belanja akan sangat tergantung dari tercapainya target penerimaan pajak.
Problematika sektor keuangan di tahun 2017 adalah masalah likuiditas. Disamping lambatnya pertumbuhan ekonomi, rendahnya realisasi dana repatriasi dan masih rendahnya tingkat inklusi keuangan/FinTech memberikan kontribusi pada masalah tekanan likuiditas. Likuiditas menjadi masalah sangat rawan bagi bank-bank buku II dan I dan hingga saat ini belum ada solusinya. Kredit perbankan tahun 2017 diperkirakan hanya akan tumbuh berkisar pada 10-12%.
Di sektor industri TIK, Anggito memprediksi bahwa daya beli komputer dan produk IT pada tahun 2017 akan tumbuh melebihi tahun 2016 yang mengalami pertumbuhan sekitar 8,9% di industri Informasi dan Komunikasi. Pertumbuhan di tahun 2017 ini akan didorong dengan tumbuhnya generasi Milenial yang sangat digital dan melek teknologi
Secara keseluruhan, Anggito menilai bahwa sektor konsumsi masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi tahun depan. Meski belum begitu membaik, ekonomi Indonesia tahun depan dinilai masih memiliki harapan. Tercermin dari Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 sebesar 5,1%. Meskipun proyeksi pertumbuhan wilayah Asia dipangkas 0,1%.