Mengangkat tema “Digital Smart Living” yang mencerminkan pola gaya hidup masa kini dari masyarakat khususnya perkotaan yang tidak bisa dilepaskan dari peranti gadget dan teknologi digital dalam aspek-aspek penting kehidupannya, BRIIndocomtech 2017 berusaha untuk memberikan update dari perkembangan teknologi, gawai, solusi, dan internet of things dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melakukan bisnis.
Dalam pelaksanaannya tahun ini, Indocomtech kembali didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. untuk tahun keenam berturut-turut. Hal ini menandakan bahwa Indocomtech telah menjadi bagian dari sebuah komitmen Bank BRI sebagai bank terbesar di Indonesia, terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. “BRI sangat bangga bisa menjadi partner utama dari BRIIndocomtech 2017 dan harapannya bisa mendukung Marketing 4.0 yang mempertemukan digital provider, player dan juga dari online menjadi offline. Dan di pameran kali ini juga ada perusahaan-perusahaan fintech (financial technology) yang mengkolaborasikan bentuk-bentuk baru atau cara bertransaksi baru, yang mirip dengan perbankan,” ungkap Handayani.
Di sisi lain, pemerintah juga terus menggeber pembangunan termasuk dalam bidang Industri Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Indonesia agar semakin memiliki peran besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional. Berdasarkan laporan The Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dirilis oleh World Economic Forum, Indonesia berada di peringkat 36 dari 137 negara. Peringkat tersebut naik dari posisi tahun lalu 41 dari 138 negara. Dalam bidang IT, peringkat Indonesia juga mengalami peningkatkan dibanding pada 2016-2017, naik dari 91 menjadi 80.
Dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang diwakili oleh Dr. Ir. Ismail MT, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, menyatakan industri telah banyak terpengaruh dari perkembangan Teknologi Informasi. Pemerintah melihat destructive technology sudah ada di depan mata dan mempengaruhi hampir semua sektor kehidupan. Destructive technology tersebut bisa menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku bisnis di Indonesia. Ada tiga perubahan yang menjadi kunci yaitu kompetensi, enterpreneurship, dan partisipasi masyarakat.
“BRIIndocomtech 2017 memiliki kontribusi penting untuk mengajak para pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk meilihat perubahan dunia, perkembangan aplikasi, software, hardware, sehingga generasi muda Indonesia nantinya bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Kita saat ini berada di era baru untuk mempertahankan kedaulatan digital Indonesia,” tutur Ismail lebih lanjut.
Menurut Ismail, Pemerintah Indonesia ingin menempatkan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Selain adanya E-commerce Roadmap, pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan valuasi bisnis USD130 miliar. Untuk itulah, pameran seperti BRIIndocomtech 2017 bisa menjadi pemicu untuk menciptakan startup atau peluang-peluang bisnis baru di bidang IT, baik sebagai produsen peranti digital, pencipta aplikasi dan solusi, atau penyedia e-commerce.
“Di tengah bisnis yang kini hampir semuanya menjadi online, sistem yang mengarah machine-to-machine (M2M) dan digital, ternyata masih diperlukan human touch. Itulah kenapa pameran BRIIndocomtech 2017 selalu disambut dan sangat dibutuhkan. Pameran BRIIndocomtech dapat menjadi kesempatan untuk terjadinya human touch atau interaksi antara penjual dan pembeli. Itulah sebabnya di pameran ini kita menghadirkan pemain-pemain online yang turut mendukung pameran ini dengan kehadiran secara offline,” kata Ketua Umum Yayasan APKOMINDO Indonesia (YAI) Ir. G. Hidayat Tjokrodjojo.
Yayasan APKOMINDO Indonesia berharap agar BRIIndocomtech 2017 dapat terus menjadi jendela perkembangan industri TIK Nasional yang memberikan gambaran langsung kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional tentang posisi dan kemampuan industri TIK Indonesia pada saat ini. Menurut Hidayat, pameran ini ibarat sebuah etalase yang merangkum perkembangan teknologi di Indonesia, memberikan edukasi mengenai teknologi melalui workshop yang ada di dalamnya, sekaligus untuk memberikan peluang bagi startup-startup bisnis teknologi di Indonesia agar bisa menggaet calon investor, serta menjadi wadah bagi para investor dan pelaku industri internasional untuk berinvestasi di Indonesia.
Sumber: www.indocomtech.net
Kondisi ini sepertinya mendorong pemerintah turut serta untuk memperkenalkan teknologi dan informasi ke pebisnis muda ataupun perusahaan kecil agar dapat memasuki pasar global. Mengingat saat ini teknologi informasi seperti internet adalah salah satu senjata yang selalu di gunakan oleh negara-negara maju untuk mengembangkan usaha bisnis mereka.
Selain mengembangkan ukm untuk memasuki pasar global, pemanfaatan teknologi informasi dalam menjalankan bisnis juga sangat membantu perusahaan kecil atau ukm dalam meminimalisasi angka pengeluaran. Kok bisa? Ya, dengan adanya teknologi seperti gadget dan internet para pebisnis tidak diharuskan membuat tempat usaha yang pastinya membutuhkan biaya yang cukup besar, hanya dengan memiliki website ataupun akun sosial media seperti Facebook dan Instagram para pebisnis bebas memasarkan produk mereka masing-masing. Selain itu, dengan teknologi yang semakin canggih semua bentuk pengiriman sudah tidak perlu repot! Karena sudah banyak aplikasi yang menawarkan jasa pengiriman dengan biaya yang kompetitif.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah dan presiden Joko Widodo telah menggandeng perusahaan asal
China, Alibaba yang sekarang telah menjadi penasihat pembangunan industri e-commerce di Indonesia guna
membantu membukakan akses terhadap dunia teknologi.
Salah satu kerjasamanya adalah melanjutkan kerjasama Kementrian Perdagangan dengan membuat platform
Inamall, pengembangan dari platform e-commerce Tiongkok yaitu Tmall yang ditujukan sebagai sarana dalam
memasarkan produk khas Indonesia ke pasar Tiongkok demi meningkatkan nilai ekspor. Pada platform tersebut
produk asal Indonesia akan masuk ke dalam kategori fast moving consumer goods (FMCG). Selain pasar Tiongkok,
kerja sama dengan Alibaba juga diharapkan dapat membantu produk Indonesia dalam merambah ke pasar
internasional lainnya.
Sebagai pameran teknologi, Indocomtech juga memiliki kesempatan untuk membantu pemerintah dengan
memberikan edukasi tentang teknologi yang sedang berkembang di dunia kepada pebisnis muda ataupun
perusahaan kecil dan juga masyarakat yang hadir. Tidak hanya itu, Pameran yang akan berlangsung di kawasan
Jakarta Convention Center ini memberikan kemudahan untuk para pengunjung supaya bisa memiliki gadget yang
menjadi salah satu alat dalam mengembangkan bisnis mereka melalui program gadget murah. Peserta luar negri
yang berasal dari China, Taiwan , Hongkong dan negara Asia lainnya akan ikut meramaikan penyelenggaraan Indocomtech 2017 nanti.
Siapa yang mau punya usaha sesukses kokoh Jack Ma? Makanya, jangan sampai gak dateng ya ke Indocomtech 2017, 1-5 November 2017 di Jakarta Convention Center.
http://www.indocomtech.net/pameran-teknologi-vs-pasar-bebas-asean/