Peluncuran Buku Profil SMK dilakukan oleh Askesra Setda DKI Jakarta Ibu Widiastuti yang ditandai dengan penandatanganan “GiantBook” Profil SMK DKI Jakarta. Dalam sambutannya Widiastuti menyampaikan bahwa kegiatan ini sungguh luar biasa karena telah melibatkan berbagai stake holder dan menampilkan karya yang hebat sehingga berharap ini bisa menjadi momentum bagi Dinas Pendidikan khususnya SMK untuk menyiapkan diri dalam menghadapi Jakarta sebagai kota global.
Acara ini dimeriahkan juga oleh para peserta didik SMK yang menampilkan “fashion show” bahkan Ibu Askesra juga ikut tampil memeragakan kain batik hasil karya peserta didik bersama Plt. Kepala Dinas Pendidikan yang mendapat sambutan meriah dari para undangan yang memenuhi aula Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya Ibu Askesra meninjau stand pameran produk SMK dari seluruh Suku Dinas Pendidikan Wilayah yang menampilkan keunggulan produk-produk SMK mulai dari Motor Listrik, Kuliner, Kriya (kerajinan) , Lukisan, Tata Kecantikan.
Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan menampilkan karya-karya kreatif para peserta didik SMK dengan menampilkan berbagai atraksi seni antara lain Band, Tari, Teater, Lenong, Solo Vocal, Puisi dan berbagai atraksi lainnya sehingga menjadi sajian atraktif dan menghibur bagi para tamu undangan mulai dari pagi hingga siang hari.
Kegiatan ini merupakan Kolaborasi antara Bidang SMK, Kursus, dan Pelatihan Disdik DKI Jakarta dengan PT Penerbit Erlangga, salah satu yang spesial pada acara tersebut adalah peluncuran enam buku terbitan Penerbit Erlangga hasil karya guru – guru SMK. Adapun buku – buku baru tersebut berjudul Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Prinsip Dasar Desain dan Komunikasi, Teknologi Perkantoran, Perangkat Lunak Desain, Komputer Akuntansi pada Perusahaan Dagang dengan Accurate, dan Bupena Merdeka Matematika untuk SMK/MAK Kelas XI. Selain enam buku tersebut, sebelumnya terdapat beberapa buku lainnya yang juga hasil karya para guru SMK yang menjadi bahan ajar para guru SMK se-Indonesia.
]]>Selain itu, Preseiden juga menilai bahwa jumlah guru terampil di SMK jumlahnya tidak memadai, masih kalah banyak dengan guru normatif yang mengajarkan pelajaran semisal agama, bahasa Indonesia, dan Pancasila. “Informasi yang saya terima, guru normatif ini lebih banyak, selisihnya 65 persen. Ini tugas kemendikbud agar guru-guru terampil lebih banyak,” kata dia.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy sudah mencanangkan program revitalisasi SMK. Mendikbud akan melakukan pembenahaan besar-besaran untuk program di SMK. Salah satunya dengan meningkatkan kompetensi tenaga pengajar.
Untuk mengoptimalkan peran guru, Muhadjir menetapkan program Keahlian Ganda. Program itu, menjadikan guru-guru yang memiliki keahlian adaptif disekolahkan untuk mengambil program studi yang sesuai dengan bidang keahlian yang dibutuhkan SMK.
“[Soalnya] banyak guru SMK yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Jumlah guru SMK yang sesuai dengan keahliannya itu hanya 30 persen. Sisanya adalah guru adaptif dan normatif,” ujar Mendikbud. Beliau merencanakan 20 ribu guru yang ikut program Keahlian Ganda dalam tiga tahun ini. Saat ini sudah tercapai 15 ribu guru punya keahlian tersebut.
psmk.kemdikbud.go.id
“Jika hanya transfer ilmu, guru bisa digantikan oleh teknologi. Guru zaman sekarang harus mampu menginspirasi, memberi sugesti dan memotivasi siswa agar mampu bersaing di era revolusi industri,” ucap Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Jawa Barat, Asep Suhanggan dalam kegiatan “Revitalisasi SMK melalui Pemanfataan Internet of Things (IOT) untuk Menyongsong Era Industri 4.0” di Simply Valore Hotel, Kota Cimahi, Rabu, 19 Desember 2018. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Bidang GTK Dinas Pendidikan Jawa Barat yang dipesertai oleh perwakilan siswa dan kepala sekolah SMK yang ada di Jawa Barat.
Asep menambahkan, salah satu hal yang bisa dilakukan oleh satuan pendidikan adalah menyiapkan karakter siswa yang adaptif dengan perkembangan zaman dengan tidak melulu menjadikan kecerdasan koginitif sebagai patokan. “Tapi harus mengedepankan proses kreativitas sebagai pembiasaan. Menanamkan kebiasaan kreatif di segala bidang adalah tujuan pendidikan hari ini agar mampu bersaing,” tutur Asep.
Selain itu, salah satu hal yang harus dilakukan guru di zaman revolusi industri saat ini adalah menjadikan realitas yang ada sebagai bahan ajar. Dia mengambil contoh dari yang dilakukan Guru SMAN 4 Bandung, Endang Yuli Purwanti yang meraih penghargaan The Most Influential Aparatur Sipil Negara (ASN) Inspiratif tingkat Nasional tahun 2018. “Beliau berhasil mengajarkan realitas yang ada di luar menjadi pembelajaran, tidak mensterilkan kelas dari dunia luar, itu salah satu ciri yang harus dimiliki guru zaman sekarang,” ucap Asep.
Melalui revolusi industri 4.0, SMK menjadi salah satu titik fokus Dinas Pendidikan Jawa Barat, karena menurut Asep, kompetensi keahlian di segala bidang yang dimiliki SMK akan menunjang perkembangan pemanfaatan teknologi yang dinamakan IOT tersebut. “IOT harus dikembangkan di seluruh satuan pendidikan yang sedang melakukan revitalisasi,” kata Asep.