Gelaran ke-29 kalinya yang diselenggarakan atas kolaborasi Yayasan Apkomindo Indonesia (YAI) dengan Satue Event ini akan digelar selama 5 hari (25-29 Oktober 2023). Mengusung tema “AI’m Existing”, Indocomtech 2023 hadir menjadi bagian dari solusi kesiapan SDM dalam menghadapi tantangan teknologi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mulai berimpilikasi pada aktivitas keseharian dan bisnis.
Terselenggaranya Indocomtech setiap tahun tak terlepas dari animo masyarakat terhadap kebutuhan produk teknologi, informasi dan komunikasi yang terus bergairah dan semakin kompleks. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, skalasi kebutuhan masyarakat terhadap teknologi komputer dan informasi semakin meningkat. Hal ini jelas berimplikasi positif terhadap kinerja Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik, dan Peralatan Listrik yang memang mengalami pertumbuhan sebesar 17,32 persen (year-on-year/yoy) sepanjang kuartal II/2023.
Sementara berdasarkan laporan GWI, perusahaan riset audiens ternama asal Inggris melalui surveinya pada kuartal tiga 2022 dalam laporannya berjudul “Digital 2023: Indonesia”, tingkat kepemilikan gawai pada masyarakat Indonesia berusia 16-64 tahun naik sebesar 3,5 persen dibandingkan tahun 2021. Dari data tersebut, sebesar 99,4 persen penduduk setidaknya memiliki satu ponsel pintar, 61,7 persen memiliki laptop atau komputer, 19 persen memiliki smart watch atau smart wristband dan 18,2 persen memiliki tablet.
Di antara seluruh gawai yang didata, kepemilikan konsol game dan perangkat smart home tercatat sebagai tingkat kepemilikan gawai yang cukup tinggi dengan peningkatan sebesar 18 persen. Pada 2022, sebanyak 17,9 persen penduduk berusia 16-64 tahun Indonesia memiliki konsol game dan 9,5 persen memiliki perangkat smart home.
Ketua Umum Apkomindo Rudy D. Muliadi dalam sambutannya di acara pembukaan hari ini menyampaikan apresiasinya atas perkembangan teknologi di Indonesia. Eksistensi Indocomtech sebagai pameran teknologi informasi terlama dan terbesar di Indonesia, menurut Rudi, tak dipungkiri turut memberikan andil dan kontribusi bagi kesadaran (awareness) masyarakat terhadap kemajuan teknologi. Sebagai trendsetter, Indocomtech terus harus beradaptasi sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat pengguna tekologi. Kendati perkembangan perangkat teknologi informasi berkembang cepat, diakui Rudi, kesiapan SDM kita masih menjadi perhatian serius.
“Mengakomodir kebutuhan masyarakat akan produk teknologi saja tidak cukup. Melalui Indocomtech, tantangannya sekarang adalah bagaimana kita dapat menyiapkan SDM yang mumpuni untuk dapat mengimbangi kekuatan teknologi dari negara lain sehingga kita tidak hanya menjadi konsumen di negara sendiri, dan turut terlibat dalam perkembangan yang ada.” papar Ketua Umum Apkomindo, Rudy D. Muliadi.
Bertempat di area seluas 5.000 m2, Indocomtech kali ini berskala lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah peserta pameran pada Indocomtech 2023 juga mengalami kenaikan sebesar 50%, dari 100 ekshibitor menjadi lebih dari 150 ekshibitor tahun ini
Ratusan ekshibitor dari berbagai kategori, mulai dari IT & Smart Technology yang menawarkan produk teknologi sehari-hari seperti smartphone, laptop dan smart device; Commerce Solution teknologi untuk menunjang kegiatan bisnis; Life Style yang mendukung kegiatan berhobi seperti gaming dan video on demand; Home Appliance; hingga Transportation Technologyyang menyajikan teknologi transportasi sepertisepeda listrik dan mobil listrik siap menampilkan produk teknologi terbaiknya. Beberapa nama di antaranya adalah Epson, Acer, HP, Canon, MSI, Dell, Astrindo, Playstation, Edifier, Nemesis, Sades, Garmin, Bardi, Asus, Amazfit, AOC, Gamemax, Endorax, Aula dan Jabra.
Sebagai surganya produk teknologi, Indocomtech menghadirkan beragam promo dan penawaran menggiurkan. Di sini para pengunjung bisa mendapatkan beragam produk teknologi dari smartphone hingga laptop dengan harga terjangkau melalui program big deals, clearance sale, lelang hingga treasure hunt. Bagi pengguna Tokopedia juga dapat langsung mengikuti promo transaksi O2O (Online to Offline). Hanya dengan bertransaksi melaui Tokopedia dan pengambilan produk di lokasi pameran, pengunjung bisa menikmati cashback hingga 1 juta rupiah. https://www.youtube.com/shorts/H1DaOqxPssg
]]>Menempati area seluas 5000 m2 di hall 7, sebanyak 120 exhibitor dari 18 kategori siap menampikan perangkat teknologi informasi teranyar dan terupdate. Beberapa perangkat yang ditawarkan antara lain laptop, smartphone, kegiatan hobi seperti gaming dan video on demand, dan Home Appliance hingga Transportation Technology seperti sepeda listrik dan mobil listrik.
Mengusung tema “AI’m Existing”, gelaran Indocomtech ke 29, memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk senantiasa menjadi bagian dari solusi atas kemajuan teknologi yang berkembang pesat dan dinamis. Perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) alias Kecerdasan buatan terus mengalami peningkatan yang pesat. Dengan nilai investasi hingga US$7 Miliar, teknologi ini diprediksi bertumbuh di Indonesia sebesar 27% pada 2027.
“Melalui Indocomtech kali ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih aware terhadap kemajuan teknologi AI, dan jeli melihat peluang yang bisa diperoleh dengan kecanggihan teknologi yang masif berkembang.”ujar Hidayat Tjokrodjojo
Gelaran Indocomtech tahun ini akan semakin semarak dengan hadirnya berbagai program dan acara yang menarik, seperti workshop, talkshow, peluncuran produk baru, acara awarding hingga robotic expo & playground. Ada pula berbagai kompetisi yang dapat diikuti seperti games competition, cosplay competition. Indocomtech turut mendukung talenta anak-anak Indonesia dalam bidang teknologi melalui KRON alias Kontes Robot Nusantara yang diikuti oleh anak SD hingga SMA dari 3 negara yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Indocomtech 2023 terbuka untuk masyarakat umum. Informasi lengkap dapat dilihat di Instagram https://www.instagram.com/indocomtech/
]]>Mengangkat tema “Digital Smart Living” yang mencerminkan pola gaya hidup masa kini dari masyarakat khususnya perkotaan yang tidak bisa dilepaskan dari peranti gadget dan teknologi digital dalam aspek-aspek penting kehidupannya, BRIIndocomtech 2017 berusaha untuk memberikan update dari perkembangan teknologi, gawai, solusi, dan internet of things dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melakukan bisnis.
Dalam pelaksanaannya tahun ini, Indocomtech kembali didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. untuk tahun keenam berturut-turut. Hal ini menandakan bahwa Indocomtech telah menjadi bagian dari sebuah komitmen Bank BRI sebagai bank terbesar di Indonesia, terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. “BRI sangat bangga bisa menjadi partner utama dari BRIIndocomtech 2017 dan harapannya bisa mendukung Marketing 4.0 yang mempertemukan digital provider, player dan juga dari online menjadi offline. Dan di pameran kali ini juga ada perusahaan-perusahaan fintech (financial technology) yang mengkolaborasikan bentuk-bentuk baru atau cara bertransaksi baru, yang mirip dengan perbankan,” ungkap Handayani.
Di sisi lain, pemerintah juga terus menggeber pembangunan termasuk dalam bidang Industri Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Indonesia agar semakin memiliki peran besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional. Berdasarkan laporan The Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dirilis oleh World Economic Forum, Indonesia berada di peringkat 36 dari 137 negara. Peringkat tersebut naik dari posisi tahun lalu 41 dari 138 negara. Dalam bidang IT, peringkat Indonesia juga mengalami peningkatkan dibanding pada 2016-2017, naik dari 91 menjadi 80.
Dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang diwakili oleh Dr. Ir. Ismail MT, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, menyatakan industri telah banyak terpengaruh dari perkembangan Teknologi Informasi. Pemerintah melihat destructive technology sudah ada di depan mata dan mempengaruhi hampir semua sektor kehidupan. Destructive technology tersebut bisa menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku bisnis di Indonesia. Ada tiga perubahan yang menjadi kunci yaitu kompetensi, enterpreneurship, dan partisipasi masyarakat.
“BRIIndocomtech 2017 memiliki kontribusi penting untuk mengajak para pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk meilihat perubahan dunia, perkembangan aplikasi, software, hardware, sehingga generasi muda Indonesia nantinya bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Kita saat ini berada di era baru untuk mempertahankan kedaulatan digital Indonesia,” tutur Ismail lebih lanjut.
Menurut Ismail, Pemerintah Indonesia ingin menempatkan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Selain adanya E-commerce Roadmap, pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan valuasi bisnis USD130 miliar. Untuk itulah, pameran seperti BRIIndocomtech 2017 bisa menjadi pemicu untuk menciptakan startup atau peluang-peluang bisnis baru di bidang IT, baik sebagai produsen peranti digital, pencipta aplikasi dan solusi, atau penyedia e-commerce.
“Di tengah bisnis yang kini hampir semuanya menjadi online, sistem yang mengarah machine-to-machine (M2M) dan digital, ternyata masih diperlukan human touch. Itulah kenapa pameran BRIIndocomtech 2017 selalu disambut dan sangat dibutuhkan. Pameran BRIIndocomtech dapat menjadi kesempatan untuk terjadinya human touch atau interaksi antara penjual dan pembeli. Itulah sebabnya di pameran ini kita menghadirkan pemain-pemain online yang turut mendukung pameran ini dengan kehadiran secara offline,” kata Ketua Umum Yayasan APKOMINDO Indonesia (YAI) Ir. G. Hidayat Tjokrodjojo.
Yayasan APKOMINDO Indonesia berharap agar BRIIndocomtech 2017 dapat terus menjadi jendela perkembangan industri TIK Nasional yang memberikan gambaran langsung kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional tentang posisi dan kemampuan industri TIK Indonesia pada saat ini. Menurut Hidayat, pameran ini ibarat sebuah etalase yang merangkum perkembangan teknologi di Indonesia, memberikan edukasi mengenai teknologi melalui workshop yang ada di dalamnya, sekaligus untuk memberikan peluang bagi startup-startup bisnis teknologi di Indonesia agar bisa menggaet calon investor, serta menjadi wadah bagi para investor dan pelaku industri internasional untuk berinvestasi di Indonesia.
Sumber: www.indocomtech.net
Mengusung tema “Connectivity”, FGDexpo 2017 menjadi rantai yang mengaitkan antara manufaktur, teknologi grafika, penyedia produk-produk dan jasa grafika, lintas media, dan penyedia jasa keuangan. Lewat “Connectivity”, FGDexpo 2017 ingin memberikan pandangan baru dalam menyikapi isu-isu di industri grafika, seperti kehadiran wadah teknologi dan ekosistem baru yang menjadi infrastruktur kemakmuran, dan memungkinkan lahirnya kewirausahaan di seluruh lapisan masyarakat.
Pembukaan FGDexpo 2017 dihadiri dan diresmikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf. Menurut Triawan, FGDexpo 2017 bisa memicu tumbuhnya industri-industri kecil (UMKM) pendukung grafika sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Sebaliknya, industri kreatif dan grafika juga dapat memberikan nilai tambah bagi produk di industri-industri lain di Indonesia.
“Saya menyambut baik sekali diadakannya pameran dua tahunan ini karena dapat menunjukkan the state of art dari apa yang kita miliki, apa yang bisa kita berikan kepada bangsa terutama untuk sektor industri kreatif itu akan saling berkaitan,” ujar Triawan.
Sementara itu, Danton Sihombing, Chairman FGDforum, menjelaskan, “Kini perindustrian dan manufaktur dunia memasuki ambang revolusi industri keempat; Industri 4.0, dalam dunia yang bergerak cepat dan saling terkoneksi. Perihal-perihal ini tak terelakan dalam gelombang inovasi teknologi, globalisasi, dan pembauran budaya. Oleh karenanya gagasan “Connectivity” menjadi mantra yang relevan untuk mencari solusi dalam lanskap digital saat ini.”
Danton juga menambahkan, “Gagasan ‘Connectivity’ merupakan upaya dalam menjembatani segmen-segmen yang aktif bersentuhan dengan industri grafika, mulai dari content creators seperti print buyers, perusahaan desain, periklanan, dan marketing, kemudian service providers termasuk percetakan, penerbit, dan digital platform developers, serta para produsen, dealer, distributor, lembaga pendidikan hingga asosiasi profesi.”
FGDExpo 2017 akan berlangsung selama 4 hari hingga tanggal 27 Agustus 2017. Selain pameran, event kali ini juga diramaikan dengan beragam seminar dan presentasi produk.
Kondisi ini sepertinya mendorong pemerintah turut serta untuk memperkenalkan teknologi dan informasi ke pebisnis muda ataupun perusahaan kecil agar dapat memasuki pasar global. Mengingat saat ini teknologi informasi seperti internet adalah salah satu senjata yang selalu di gunakan oleh negara-negara maju untuk mengembangkan usaha bisnis mereka.
Selain mengembangkan ukm untuk memasuki pasar global, pemanfaatan teknologi informasi dalam menjalankan bisnis juga sangat membantu perusahaan kecil atau ukm dalam meminimalisasi angka pengeluaran. Kok bisa? Ya, dengan adanya teknologi seperti gadget dan internet para pebisnis tidak diharuskan membuat tempat usaha yang pastinya membutuhkan biaya yang cukup besar, hanya dengan memiliki website ataupun akun sosial media seperti Facebook dan Instagram para pebisnis bebas memasarkan produk mereka masing-masing. Selain itu, dengan teknologi yang semakin canggih semua bentuk pengiriman sudah tidak perlu repot! Karena sudah banyak aplikasi yang menawarkan jasa pengiriman dengan biaya yang kompetitif.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah dan presiden Joko Widodo telah menggandeng perusahaan asal
China, Alibaba yang sekarang telah menjadi penasihat pembangunan industri e-commerce di Indonesia guna
membantu membukakan akses terhadap dunia teknologi.
Salah satu kerjasamanya adalah melanjutkan kerjasama Kementrian Perdagangan dengan membuat platform
Inamall, pengembangan dari platform e-commerce Tiongkok yaitu Tmall yang ditujukan sebagai sarana dalam
memasarkan produk khas Indonesia ke pasar Tiongkok demi meningkatkan nilai ekspor. Pada platform tersebut
produk asal Indonesia akan masuk ke dalam kategori fast moving consumer goods (FMCG). Selain pasar Tiongkok,
kerja sama dengan Alibaba juga diharapkan dapat membantu produk Indonesia dalam merambah ke pasar
internasional lainnya.
Sebagai pameran teknologi, Indocomtech juga memiliki kesempatan untuk membantu pemerintah dengan
memberikan edukasi tentang teknologi yang sedang berkembang di dunia kepada pebisnis muda ataupun
perusahaan kecil dan juga masyarakat yang hadir. Tidak hanya itu, Pameran yang akan berlangsung di kawasan
Jakarta Convention Center ini memberikan kemudahan untuk para pengunjung supaya bisa memiliki gadget yang
menjadi salah satu alat dalam mengembangkan bisnis mereka melalui program gadget murah. Peserta luar negri
yang berasal dari China, Taiwan , Hongkong dan negara Asia lainnya akan ikut meramaikan penyelenggaraan Indocomtech 2017 nanti.
Siapa yang mau punya usaha sesukses kokoh Jack Ma? Makanya, jangan sampai gak dateng ya ke Indocomtech 2017, 1-5 November 2017 di Jakarta Convention Center.
http://www.indocomtech.net/pameran-teknologi-vs-pasar-bebas-asean/