Kompetisi di bidang keuangan, menurut Menteri Kominfo dapat dilakukan oleh perbankan Indonesia dengan beradaptasi dengan perkembangan dunia digital. “Sistem bank yang ada di Indonesia sebaiknya mencontoh sistem keuangan perusahaan e-Commerce Indonesia yaitu Go-Jek, sesuai dengan perkembangan ekonomi digital saat ini sehingga perekonomian di Indonesia dapat lebih berkembang,” katanya.
Menteri Kominfo menyatakan untuk memajukan perekonomian di Indonesia dan mendukung inovasi generasi muda, ada 7 isu utama dalam dunia digital economy yang m menjadi perhatian Kementerian Kominfo. “Tujuh isu utama yang harus kita perhatikan untuk memajukan perekonomian di Indonesia pertama Human Capital, yang kedua funding start-up, ketigaTaxation, keempat cyber security, kelima ICT infrastructure, keenam consumer protection, dan yang ketujuh logistic,” paparnya.
Pada kesempatan ini Menteri Rudiantara menjelaskan pembangunan Palapa Ring yang dilakukan pemerintah Indonesia ber tujuan mendukung kelancaran proses pemajuan start-up di Indonesia. “Bagaimana kita bisa menghubungkan semuanya di Indonesia, mulai dari rakyat, instansi seperti rumah sakit, sekolah, sampai perusahaan, hal itu dapat diwujudkan dengan dibangunnya Palapa Ring, dengan begitu, semua bisa terkoneksi satu dengan yang lain,” terangnya.
Kegiatan 2JICF digelar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk membangun komunikasi antar pemangku kebijakan yang memiliki konsentrasi sama dalam penegakan hukum persaingan usaha, terutama ketika memasuki era ekonomi digital. Kegiatan bertema Disruptive Innovation, Competition Policy & Challenges to Emerging Markets itu menghadirkan narasumber antara lain CEO Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim, CCS Singapura Ng Ee Kia, Mckinsey India Toshan Tamhane, Hassan Qaqaya dari Melbourne University, dan beberapa stakeholders lainnya.
www.kominfo.go.id
Fungsi utama dari Smart Card dengan menggunakan teknologi Chip kompak adalah untuk memproses data dalam perangkat apa pun yang digunakan, banyak yang memiliki proporsi yang identik dengan kredit yang ada, dengan strip magnetik di bagian belakang. Perkembangan teknologi terbaru ini mengandalkan ribuan magnet mikroskopis berorientasi dengan cara tertentu untuk mewakili informasi pengguna, Smart Card secara elektronik dapat menyimpan informasi jauh lebih baik dengan menggunakan Microchip.
Dan untuk memenuhi kebutuhan akan smart card, PT. Xirka Silicon Technology, satu perusahaan asli Indonesia yang bergerak dibidang chipset semiconductor meluncurkan satu produk smart card terbaru berupa Chipset SCard XCT136. Peluncuran chipset karya anak bangsa ini dihadiri oleh Menkominfo, Bapak Rudiantara.
“Ekonomi digital memiliki potensi sangat besar dalam memajukan perekonomian Indonesia. Bahkan sektor digital ini akan berkontribusi pada perkembangan ekonomi Indonesia hingga 11% di tahun 2020. Jika tercapai, di tahun 2030 Indonesia akan menempati posisi ke-8 dalam perekonomian dunia. Karenanya, dibutuhkan inovasi yang lebih besar untuk dapat bersaing secara global dan pengembangan chipset inilah jawabannya,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam peluncuran Chipset SCard XCT136.
Rancangan Chipset SCard XCT136 secara keseluruhan dilakukan didalam negeri oleh putra-putri Indonesia melalui pusat penelitian dan pengembangan Xirka di Bandung, Jawa Barat. Keunggulan yang dimiliki chipset ini antara lain anti cloning, anti racking, key generation dan key diversification.
Chipset SCard XCT136 memiliki prosesor yang mendukung komunikasi dengan BTS operator telekomunikasi seluler dengan standar GSM. Smart Card Xirka ini juga dilengkapi security engine DES dan 3DES yang terjamin keamanan dan fungsionalitasnya. Untuk keperluan penyimpanan data, Xirka membenamkan memori flash sebesar 136 Kbyte pada chipset ini.
Selain digunakan untuk SIM Card, chipset ini juga dapat digunakan untuk keperluan lain seperti loyalty card, kartu mahasiswa dan kontrol akses. Untuk itu, Xirka akan mengimplementasikan chipset smart card ini dalam pilot project smart campus menggunakan Standar Interoperabilitas yang dikeluarkan oleh Konsorsium Smart Card Indonesia(KSCI).
Beberapa perguruan tinggi yang bekerjasama dalam pilot project ini antara lain ITB, UI, UnHas dan TelU. “Pada tahap pertama ini, kita memfokuskan terlebih dahulu untuk universitas. Ini karena jumlah mahasiswa sekitar 7 jutaan ya,” ujar CEO PT Xirka Silicon Technology, Sylvia W. Sumarlin usai acara peluncuran.
“Kominfo concern dengan keberadaan chipset yang sebenarnya sudah bisa dikategorikan 30% buatan lokal tapi chipset blum masuk dalam TKDN 30 % , malah chipset buatan Indonesia nilai kandungannya harus dilebihkan karna keseluruhan dilakukan didalam negeri melalui pusat penelitian dan pengembangan Xirka di Bandung,” lanjut Rudiantara, usai acara.
Hadirnya produk smart card karya anak bangsa ini diharapkan mampu mengantisipasi kebutuhan pasar smart card dalam negeri, seperti untuk aplikasi smart city, smart campus, tiket, kartu BPJS dan KTP elektronik.
Bekerjasama dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) dengan Dyandra Promosindo, APJII mengungkapkan bahwa kesuksesan dan momentum kebangkitan ekonomi digital Indonesia menjadi celah yang baik dalam menyelenggarakan pagelaran tersebut. Industri e-commerce Indonesia dipastikan akan jadi semangat baru dan mampu menumbuhkan pertumbuhan ekonomi digital negara.
IESE 2017 yang baru dengan mengusung tema ‘Empowering the Digital Energy of Asia, dikabarkan akan digelar pada tanggal 9-11 Mei 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang.