“Dua aspek itulah yang mendasari kedua terobosan ini yang kita cetuskan. Insya Allah ini akan menjadi perubahan besar, akan menjadi motor penggerak dan mengubah arah pendidikan vokasi Indonesia. Yaitu, D3 kita upgrade menjadi D4, kemudian program SMK dikawinkan dengan pendidikan tinggi atau politeknik, dikawinkan dengan D2, tetapi ada fast track nya,” terang Wikan.
Wikan juga menjelaskan bahwa kedua program ini tidak wajib diikuti oleh satuan lembaga pendidikan vokasi maupun siswa SMK. Namun demikian, tentunya kedua program ini memiliki keunggulan. Selain memiliki waktu yang lebih singkat, pendidikan fast track ini juga melibatkan kerja sama 3 lembaga sehingga dapat memaksimalkan potensi lulusan yang ada. “Satu, jelas lebih pendek waktunya. Kedua, ini adalah pernikahan segitiga, yakni SMK, kampus vokasi atau politeknik, dan industri. Sehingga, kemampuan 3 tahun di SMK itu akan diakui dengan credit earning, atau credit transfer ke perguruan tinggi. Ini sebuah keuntungan bagi anak SMK,” tuturnya.
Begitupun dengan program upgrading D3 menjadi D4, yang memberikan efisiensi waktu untuk para lulusan diploma tanpa mengurangi kompetensi dan daya belajar yang didapatkan. “Kami sangat mendorong kampus vokasi untuk meng-upgrade sarjana terapan atau D3 menjadi D4, tapi syaratnya tidak main-main. Menu ini akan membuat roadmap pendidikan vokasi lebih menarik bagi anak-anak SMP atau anak-anak SMK untuk meneruskan ke diploma,” terangnya.
Wikan pun mengaku optimistis jika melihat hasil survei informal yang disebar ke seluruh pendidikan tinggi vokasi di Indonesia. Tecatat, dalam seminggu menghasilkan 276 prodi yang tertarik untuk mengikuti program upgrading D3 menjadi D4 dengan jurusan teknik elektro, akuntansi, mesin, dan manajemen informatika sebagai jurusan terbanyak. Program yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi lulusan di dunia kerja ini, tentunya telah dirancang dengan berbagai persiapan yang matang serta telah melalui diskusi panjang oleh perwakilan dari dunia industri maupun lembaga pendidikan. “Sehingga, pembentukan soft skill leadership pada lulusan D4 ini bisa lebih komprehensif. Jangan hanya diajarikan teori dan praktik lebih banyak, anak-anak itu harus dibuat bergairah dulu. Makanya, anak-anak akan hadir dengan talenta terbaik mereka,” pungkasnya.
https://www.vokasi.kemdikbud.go.id/read/program-anyar-ciptakan-pendidikan-vokasi-lebih-menarik
Di samping kurikulum, Kemendikbud juga meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru SMK. Caranya, dengan berbagai pelatihan yang berkolaborasi dengan industri melalui pelatihan guru dan mendatangkan praktisi dari kalangan industri. Menurutnya, kurikulum di SMK memberikan banyak pembelajaran yang membangkitkan kompetensi siswa. Seperti peningkatan soft skill yang dapat digunakan dalam dunia kerja.
Wikan juga meminta para orang tua untuk memberikan kebebasan kepada anaknya dalam menentukan sekolah, termasuk jika anaknya memutuskan melanjutkan pendidikan ke SMK. Menurutnya, banyak kompetensi yang hadir saat ini seiring dengan pekerjaan baru dan SMK dapat memberikan wadah pembelajaran bagi kompetensi baru tersebut.
“Kalau orang tua anak-anak SMP masih beranggapan bahwa SMK itu masih seperti masa lalu itu salah. Masuk ke SMK itu bisa lanjut ke D4 atau Sarjana Terapan bisa sampai ke S2 Terapan,” tuturnya.
Kemendikbud Akan Sinkronisasikan Pendidikan SMK dengan Jenjang D2
Lebih lanjut Wikan mengatakan bahwa DitJen Vokasi Kemdikbud akan melakukan sinkronisasi pendidikan SMK dengan jenjang Diploma Dua (D2). Program ini memungkinkan siswa SMK bersekolah bahkan selama 4,5 tahun sehingga bisa mendapatkan gelar D2 setelah lulus.
Gagasan ini mempertimbangkan pola pendidikan vokasi di Jepang. Bahkan, ketika menempuh pendidikan di jenjang vokasi, siswa dapat menempuh pendidikan hingga jenjang S2 terapan di luar negeri.
“Jadi SMK dinikahkan massal dengan D2. Seperti SMK di Jepang, SMK lima tahun,” ucap Wikan di Jakarta, pekan lalu.
Meski begitu, program ini tidak memperpanjang masa studi di SMK hingga lima tahun. Wikan mengatakan, siswa dapat memilih apabila lebih cocok ke hands on, praktikal, tapi tetap ada teorinya bisa masuk SMK bisa sampai ke D4 atau bisa sampai ke S2 terapan di Jerman atau di Taiwan dan sebagainya.
Wikan menuturkan, selain untuk menyelaraskan pendidikan jenjang SMK dengan D2, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan soft skill dari lulusan SMK.
Kemendikbud berkomitmen melakukan link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi serta kapabilitas lulusan vokasi. Harapannya lulusan pada jenjang ini dapat memenuhi kebutuhan dari dunia industri dan dunia usaha (IDUKA).
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, ada lima syarat minimal agar link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri dapat terjadi. “Paket link and match itu minimal ada lima,” ujar Wikan di Jakarta, pekan lalu.
Wikan menegaskan, link and match antara pendidikan vokasi dan industri tidak hanya sekadar tanda tangan MoU, foto-foto kemudian masuk koran. Ia menganalogikan pada hubungan dua orang yang sedang berpacaran dan sampai pada jenjang menikah.
Dengan konsep lima syarat tersebut. Wikan menargetkan 80 persen lulusan pendidikan vokasi dapat terserap ke dunia industri. Sedangkan 20 persen lainnya bisa berbisnis atau ke pekerjaan lain. “Sekarang ada 90 persen ada, 70 persen ada,” ujarnya.
Saat ini terdapat stigma bahwa lulusan sekolah vokasi bakal menjadi pengangguran, menurut Wikan. Dirinya mengatakan anggapan ini dapat terbantahkan dengan peningkatan kompetensi siswa SMK melalui link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia industri.
“Kompeten artinya lulusan itu sudah berani bilang aku bisa apa, bukannya ini ijazahku. Kalau dia bilang ini ijazahku, itu artinya dia (hanya) bilang aku sudah belajar apa,” katanya. Oleh karena itu, melalui link and match ini, Wikan berharap lulusan SMK akan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri.