Pameran Teknologi Informasi dan Komunikasi BRIIndocomtech 2017 yang diselenggarakan selama lima hari, mulai dari tanggal 1 – 5 November 2017 bertempat di Hall A, Cendrawasih Hall, Main Lobby Hall dan Assembly Hall Jakarta Convention Center telah resmi ditutup hari Minggu, tanggal 5 November 2017.
Sepanjang lima hari perhelatan BRIIndocomtech 2017, jumlah pengunjung tercatat mencapai 178.285 orang. Sementara dari jumlah total transaksi, BRIIndocomtech 2017 mencatat angka 613.748.500.000 miliar dengan penjualan terbanyak masih dikuasai oleh gadget jenis smartphone dan laptop. Dibandingkan gelaran tahun lalu yang mencapai transaksi sebesar Rp610 miliar, BRIIndocomtech 2017 mengalami sedikit lonjakan transaksi pada tahun ini.
“BRIIndocomtech 2017 memang masih populer sebagai pameran business-to-consumer (B2C) dengan aura diskon yang selalu masih menarik and menguntungkan pengunjungnya, namun tahun ini sudah mulai tampak geliat pameran B2B (business-to-business) yang sudah menghasilkan potensi transaksi dan kolaborasi bisnis yang cukup besar,” ujar Ir. G. Hidayat Tjokrodjojo, Ketua Yayasan APKOMINDO Indonesia.
Ketua (DPAP) Dewan Pengurus Apkomindo Pusat, Rudy D. Muliadi beserta jajarannya, mengatur transportasi bagi para pengusaha untuk melihat area B2B. Selain itu 60 orang peserta pameran dari berbagai negara, diajak mengunjungi Kantor Sekretariat APKOMINDO, serta meninjau pusat perdagangan komputer di daerah Mangga Dua dan sekitarnya.
Semua Potensi yang dihasilkan dari pameran ini tersebut akan di tindak lanjuti, sehingga Yayasan APKOMINDO Indonesia bersama dengan Traya Events dapat menyelenggarakan Indocomtech dengan konsep dan konten yang segar setiap tahunnya, khususnya untuk menjawab situasi shifting dan disruption di segala bidang serta perekonomian yang sedang kita sama-sama alami.

Indocomtech juga berusaha berkembang dengan menambah porsi edukasi seiring komitmen Yayasan APKOMINDO untuk mengembangkan dan mengasah sumber daya manusia di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi sehingga Indonesia siap menjadi pelaku-pelaku industri yang aktif berpartisipasi bukan hanya sebagai pasar bagi produk-produk dari Luar Negeri.
“Kami patut bersyukur karena pameran BRIIndocomtech 2017 yang juga menampilkan B2B di arena i3expo, telah terlaksana dengan baik. Dilihat dari jumlah peserta, serta total transaksi, pameran kali ini telah melebihi target yang direncanakan dari awal. Kami mengakui ada berbagai kendala lokasi dan juga pengaruh perekonomian yang “disruptive” serta shifting dari Offline ke Online, tapi ternyata kebutuhan konsep Offline ke Online, tidak mengurangi minat masyarakat untuk datang di pameran ini. Gelaran tahun depan akan semakin lengkap, B2C, B2B, Online dan perusahaan rintisan (Start Up) maupun acara seminar dan talk show serta Focus Group Discussions, akan digelar bersamaan sesuai konsep baru dari YAYASAN APKOMINDO INDONESIA, selaku penyelenggara,” tutur Bambang Setiawan, Presiden Direktur Traya Events yang sudah melaksanakan pameran INDOCOMTECH sejak tahun 2000.
Bambang juga mengucapkan terima kasih kepada Bank BRI dan Yayasan APKOMINDO Indonesia atas jalinan kerja sama yang apik dalam pelaksanaan BRIIndocomtech 2017. Pada tahun depan, Yayasan APKOMINDO Indonesia, dan Traya Events berencana menggelar Indocomtech 2018 pada 31 Oktober – 4 November 2018, dengan jumlah peserta lebih banyak dan area pameran yang lebih luas.
Sumber: http://www.indocomtech.net
Mengangkat tema “Digital Smart Living” yang mencerminkan pola gaya hidup masa kini dari masyarakat khususnya perkotaan yang tidak bisa dilepaskan dari peranti gadget dan teknologi digital dalam aspek-aspek penting kehidupannya, BRIIndocomtech 2017 berusaha untuk memberikan update dari perkembangan teknologi, gawai, solusi, dan internet of things dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melakukan bisnis.
Dalam pelaksanaannya tahun ini, Indocomtech kembali didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. untuk tahun keenam berturut-turut. Hal ini menandakan bahwa Indocomtech telah menjadi bagian dari sebuah komitmen Bank BRI sebagai bank terbesar di Indonesia, terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. “BRI sangat bangga bisa menjadi partner utama dari BRIIndocomtech 2017 dan harapannya bisa mendukung Marketing 4.0 yang mempertemukan digital provider, player dan juga dari online menjadi offline. Dan di pameran kali ini juga ada perusahaan-perusahaan fintech (financial technology) yang mengkolaborasikan bentuk-bentuk baru atau cara bertransaksi baru, yang mirip dengan perbankan,” ungkap Handayani.
Di sisi lain, pemerintah juga terus menggeber pembangunan termasuk dalam bidang Industri Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Indonesia agar semakin memiliki peran besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional. Berdasarkan laporan The Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dirilis oleh World Economic Forum, Indonesia berada di peringkat 36 dari 137 negara. Peringkat tersebut naik dari posisi tahun lalu 41 dari 138 negara. Dalam bidang IT, peringkat Indonesia juga mengalami peningkatkan dibanding pada 2016-2017, naik dari 91 menjadi 80.
Dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang diwakili oleh Dr. Ir. Ismail MT, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, menyatakan industri telah banyak terpengaruh dari perkembangan Teknologi Informasi. Pemerintah melihat destructive technology sudah ada di depan mata dan mempengaruhi hampir semua sektor kehidupan. Destructive technology tersebut bisa menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku bisnis di Indonesia. Ada tiga perubahan yang menjadi kunci yaitu kompetensi, enterpreneurship, dan partisipasi masyarakat.
“BRIIndocomtech 2017 memiliki kontribusi penting untuk mengajak para pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk meilihat perubahan dunia, perkembangan aplikasi, software, hardware, sehingga generasi muda Indonesia nantinya bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Kita saat ini berada di era baru untuk mempertahankan kedaulatan digital Indonesia,” tutur Ismail lebih lanjut.
Menurut Ismail, Pemerintah Indonesia ingin menempatkan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Selain adanya E-commerce Roadmap, pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan valuasi bisnis USD130 miliar. Untuk itulah, pameran seperti BRIIndocomtech 2017 bisa menjadi pemicu untuk menciptakan startup atau peluang-peluang bisnis baru di bidang IT, baik sebagai produsen peranti digital, pencipta aplikasi dan solusi, atau penyedia e-commerce.
“Di tengah bisnis yang kini hampir semuanya menjadi online, sistem yang mengarah machine-to-machine (M2M) dan digital, ternyata masih diperlukan human touch. Itulah kenapa pameran BRIIndocomtech 2017 selalu disambut dan sangat dibutuhkan. Pameran BRIIndocomtech dapat menjadi kesempatan untuk terjadinya human touch atau interaksi antara penjual dan pembeli. Itulah sebabnya di pameran ini kita menghadirkan pemain-pemain online yang turut mendukung pameran ini dengan kehadiran secara offline,” kata Ketua Umum Yayasan APKOMINDO Indonesia (YAI) Ir. G. Hidayat Tjokrodjojo.
Yayasan APKOMINDO Indonesia berharap agar BRIIndocomtech 2017 dapat terus menjadi jendela perkembangan industri TIK Nasional yang memberikan gambaran langsung kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional tentang posisi dan kemampuan industri TIK Indonesia pada saat ini. Menurut Hidayat, pameran ini ibarat sebuah etalase yang merangkum perkembangan teknologi di Indonesia, memberikan edukasi mengenai teknologi melalui workshop yang ada di dalamnya, sekaligus untuk memberikan peluang bagi startup-startup bisnis teknologi di Indonesia agar bisa menggaet calon investor, serta menjadi wadah bagi para investor dan pelaku industri internasional untuk berinvestasi di Indonesia.
Sumber: www.indocomtech.net