Prijono Sugiarto yang akrab dipanggil Pak Pri ini merupakan penggemar otomotif sejak belia. Oleh sebab itu, selepas tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), dia melanjutkan kuliah Teknik Mesin di Jerman hingga mendapat gelar Dipl.-Ing. dari University of A. Sc. Konstanz, Jerman pada tahun 1984. Kemudian atas saran dari ayahnya, Pak Pri melanjutkan studinya dibidang Business Administration hingga lulus dengan gelar Dipl.Wirtschaftsing dibidang Administrasi Niaga dari A.Sc. Bochum Jerman pada 1986. Setelah lulus, Pak Pri kembali ke Indonesia.
Ditahun 1987, dia diterima menjadi karyawan PT. Daimler-Benz Indonesia. “Saya diterima di Mercedes-Benz bagian sales engineering. Peran saya membantu sales manager berjualan kepada para user,” ujarnya. Tdak lama bekerja disana, Pak Pri hanya bertahan tiga tahun setelah kemudian menerima tawaran pindah ke salah satu anak perusahaan Grup Astra, PT. Tjahja Sakti Motor pada tahun 1990 yang menaungi merek mobil premium asal Jerman, BMW.
Dengan sepak terjang yang cakap, Prijono lantas mendapat promosi sebagai Direktur Operasional pada tahun 1990. Dan pada tahun 1997, BMW mengalami penjualan terbesar, mencapai 10 persen dari total pasar mobil premium di Indonesia. Dia pun dipercaya untuk menempati posisi sebagai Presiden Direktur PT. Tjahja Sakti Motor.
Karir gemilangnya terus menanjak, hingga sekitar tahun 2008, ia mendapat tanggung jawab untuk menjadi direktur di PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Astra Otoparts Tbk (AOP), dimana keduanya merupakan anak perusahaan Grup Astra. Dan pada Maret 2010, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Astra International Tbk menyetujui Prijono Sugiarto menjadi Presiden Direktur menggantikan almarhum Michael D Ruslim.
Selama memimpin Astra International, Prijono meraih beragam penghargaan, salah satunya adalah Asia Business Leader of The Year Award (ABLA) 2014. Dalam memimpin Astra International, Prijono memegang teguh Catur Dharma, sebuah filosofi yang dicetuskan oleh pendahulunya, para pendiri Astra. Filosofi tersebut terdiri dari empat butir, yaitu menjadi milik yang bermanfaat untuk bangsa dan negara, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, menghargai individu dan kerja sama serta senantiasa berusaha mencapai yang terbaik.
Pada masa kepemimpinannya, Prijono aktif mendorong Astra International menjalin kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Jerman dalam bidang vokasi. Dengan cara ini, ia optimistis, sumber daya manusia Indonesia dapat setara dengan Jerman yang sudah terkenal lebih maju. Astra sudah menggunakan kurikulum dengan dual system dari Jerman. Prijono menyebutkan, Polman Astra telah melaksanakan dua proyek yang mengadaptasi sistem pendidikan ganda Jerman.
Di antaranya, program persiapan meister melalui kerja sama dengan antara Alfons Kern Schule (AKS) dengan EKONIND serta program D3 yang lulusannya disertifikasi oleh Kamar Dagang Jerman (DIHK).
“Ada program vokasi bernama Meister di Jerman, tergantung piawai di bidang apa. Mau jadi kepala harus melalui program Meister setelah vokasi. Biasanya setelah dari sana, menjadi pimpinan di perusahaan di bidang apapun. Satu angkatan terdiri dari 12 hingga 15 orang. Harapan saya bisa ditularkan di seluruh Indonesia, tidak hanya Astra, sehingga makin banyak program kepemimpinan vokasi yang terarah dan berkualitas,” tutur Prijono.
Setelah tak lagi aktif di jajaran direksi, Prijono dipercaya sebagai Presiden Komisaris PT Astra International. Ia tetap aktif dalam berorganisasi seperti menjadi Dewan Pengawas The German-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (EKONID/AHK Indonesien), dan Alumni Berlin Indonesia.
]]>Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika meng-inisiasi pembentukan satu organisasi sosial kemasyarakatan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Organisasi ini diberi nama Relawan TIK Indonesia.
Relawan TIK Indon
esia berdiri pada 4 Juli 2011 di Bogor dalam acara Forum Koordinasi, Komunikasi, Kolaborasi, dan Kerjasama Komunitas TIK. Anggota Relawan TIK Indonesia memiliki latar belakang akademisi, mahasiswa, dosen, pegawai swasta, pegiat Linux, blogger dan sebagainya.
Secara nasional, Relawan TIK Indonesia memiliki misi untuk berkontribusi dan partisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan, kemasyarakatan serta berperan dalam tugas kemanusiaan, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan TIK bagi kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa Indonesia.
Relawan TIK Indonesia memiliki 4 program kerja antara lain
Program yang sudah berjalan sepanjang didirikannya antara lain Pelatihan bagi masyarakat di perkotaan maupun pedesaan dalam memanfaatkan TIK dalam meningkatkan produktivitasnya. Setiap Relawan TIK daerah berkolaborasi dengan pemerintah setempat menyelenggarakan program literasi digital sesuai dengan kebutuhan di wilayahnya.

Seperti misalnya yang dijalankan adalah program REGOS atau Relawan TIK Goes To School. Program tahunan ini merupakan kerjasama dengan International IT Volunteer (IIV) sejak 2012, dimana para relawan TIK yang berasal dari Korea Selatan turut berpartisipasi aktif melakukan sosialisasi pemanfaatan Internet Cerdas dan Kreatif (INCAKAP) serta memberik
an pelatihan coding sederhana bagi siswa SMP dan SMK di beberapa Kota di Indonesia.
Sementara geliat Relawan TIK Indonesia bersama penggiat Gerakan Desa Membangun di pedesaan adalah dengan memberikan literasi dan mendorong desa-desa agar melek IT dan melakukan publikasinya melalui media online adalah dengan program desa.id yang sudah berjalan sejak tahun 2013.
Saat ini Relawan TIK Indonesia telah memiliki sekitar 30 koordinator daerah yang tersebar diseluruh penjuru tanah air. Sedangkan untuk pengurus pusat Relawan TIK saat ini di ketuai oleh Fajar Eri Dianto yang dibantu Ketua Harian, Unggul Sagena.